RADAR KUDUS – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan laporan pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sepanjang Senin (9/6/2026) tercatat satu kali kejadian awan panas guguran yang meluncur hingga sejauh 2 kilometer ke arah barat daya.
Dalam laporan aktivitas Gunung Merapi selama periode pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, kondisi visual gunung masih dapat diamati dengan cukup jelas meskipun sesekali tertutup kabut.
Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tebal terlihat membumbung sekitar 75 meter dari puncak.
Selama masa pengamatan tersebut, BPPTKG mencatat berbagai aktivitas kegempaan yang masih cukup tinggi.
Terdapat satu kali awan panas guguran dengan amplitudo 26 milimeter dan durasi sekitar 136 detik.
Selain itu, terdeteksi 141 kali guguran lava, 66 gempa hybrid atau fase banyak, lima gempa vulkanik dangkal, serta satu gempa tektonik jauh.
Aktivitas guguran lava juga masih terus berlangsung.
Sedikitnya 25 kali guguran terpantau mengarah ke sektor barat daya melalui alur Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak dengan jarak luncur terjauh mencapai 2.000 meter.
Sementara itu, kondisi cuaca di kawasan puncak bervariasi mulai dari cerah hingga berawan.
Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat, dengan suhu udara berkisar antara 14,1 hingga 24,7 derajat Celsius.
Meski aktivitas vulkanik masih cukup intens, status Gunung Merapi hingga kini tetap berada pada Level III atau Siaga.
BPPTKG mengingatkan bahwa potensi bahaya utama masih berasal dari guguran lava dan awan panas guguran yang dapat mengancam wilayah sektor selatan hingga barat daya.
Area yang berpotensi terdampak meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga radius 7 kilometer.
Sementara itu, di sektor tenggara, ancaman serupa berpotensi menjangkau alur Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga diminta mewaspadai kemungkinan lontaran material vulkanik apabila terjadi erupsi eksplosif.
Material tersebut diperkirakan dapat menjangkau area dalam radius 3 kilometer dari kawah.
BPPTKG menegaskan bahwa warga maupun wisatawan tidak diperkenankan melakukan aktivitas di kawasan yang masuk zona bahaya.
Selain itu, masyarakat di sekitar lereng Merapi diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar hujan dan awan panas guguran, terutama saat curah hujan meningkat.
Potensi gangguan akibat abu vulkanik juga perlu diantisipasi. Berdasarkan hasil pemantauan, suplai magma ke tubuh gunung masih terus berlangsung sehingga peluang terjadinya guguran lava maupun awan panas di area rawan tetap cukup tinggi.
Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan BPPTKG dan PVMBG serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Editor : Ali Mustofa