RADAR KUDUS - Pemerintah Republik Indonesia mengambil langkah tidak biasa guna menyiasati tekanan hebat terhadap mata uang domestik.
Imbas nilai tukar rupiah yang terus menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pemerintah mulai gencar mendorong implementasi skema perdagangan barter atau imbal dagang (countertrade) sebagai alternatif cerdas transaksi ekspor-impor tanpa perlu bergantung pada mata uang paman sam tersebut.
Langkah taktis ini diwujudkan secara konkret melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) strategis antara konsorsium pengusaha Indonesia dan Filipina.
Kerja sama bilateral bermodus tukar guling komoditas ini diproyeksikan mampu mengamankan potensi nilai perdagangan yang fantastis, yakni mencapai US$350 juta atau setara dengan Rp6,29 triliun.
Tekstil dan Baja Ditukar Serat Abaka hingga Bijih Besi
Dalam skema barter yang telah disepakati, kedua negara tetangga di Asia Tenggara ini akan saling melengkapi kebutuhan industri dalam negeri masing-masing secara langsung.
Indonesia dijadwalkan akan mengimpor sejumlah bahan baku mentah krusial dari Filipina, seperti serat abaka bermutu tinggi dan bijih besi.
Sesampainya di tanah air, bahan baku impor tersebut akan langsung didistribusikan ke lini manufaktur domestik untuk diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi (added value), seperti tekstil siap pakai dan material baja pracetak.
Produk-produk jadi hasil olahan tersebut nantinya akan diekspor kembali ke Filipina sebagai alat bayar sah atas bahan baku yang telah diterima sebelumnya.
Melalui mekanisme sirkular ini, industri manufaktur dalam negeri tetap dapat mengamankan pasokan bahan baku dan pasar ekspor tanpa harus mencemaskan fluktuasi harian kurs dolar AS.
Solusi Amankan Cadangan Devisa dan Jaga Stabilitas Pasar
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan bahwa penghidupan kembali sistem perdagangan kuno yang dimodernisasi ini merupakan solusi paling logis di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Langkah pemangkasan ketergantungan terhadap dolar AS (dedollarization) melalui imbal dagang ini dipercaya dapat menjaga stabilitas volume perdagangan internasional Indonesia agar tidak merosot.
"Sistem barter ini dapat menjadi jalan keluar strategis untuk mengurangi dominasi dan ketergantungan kita terhadap dolar AS, sekaligus membantu menjaga stabilitas kinerja perdagangan nasional di tengah volatilitas nilai tukar yang ekstrem," jelas Menteri Perdagangan Budi Santoso.
Selain mengamankan jalur logistik ekspor-impor, mekanisme ini dinilai sangat efektif untuk menghemat pemakaian cadangan devisa nasional yang ada di Bank Indonesia, sehingga kekuatan fiskal negara bisa dialokasikan untuk kebutuhan mendesak lainnya.
Perluas Jaringan ke Sembilan Negara Termasuk Jepang dan China
Strategi imbal dagang ini sejatinya tidak hanya menyasar Filipina saja. Sebagai langkah keseriusan, pemerintah telah menggandeng entitas khusus, yakni PT Trade Barter Indonesia, yang ditunjuk untuk memfasilitasi dan memperluas jaringan perdagangan nontunai ini ke kancah global.
Hingga pertengahan tahun 2026, korporasi tersebut tercatat telah sukses memfasilitasi kerja sama imbal dagang serupa dengan sembilan negara mitra strategis.
Negara-negara tersebut meliputi raksasa ekonomi Asia seperti Jepang dan China, negara berkembang di benua Afrika seperti Ghana, hingga sejumlah negara maju di kawasan Eropa.
Melihat besarnya potensi pertumbuhan dari sistem ini, pemerintah bersama PT Trade Barter Indonesia kini tengah menyusun cetak biru (blueprint) baru guna memperluas layanan barter.
Ke depan, objek imbal dagang tidak hanya akan terbatas pada sektor komoditas barang berwujud fisik saja, melainkan juga akan mulai merambah ke sektor pertukaran jasa lintas negara secara luas. (*)