Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Imbas Rupiah Lunglai dan Krisis Global, BPOM Beri Sinyal Kenaikan Harga Obat-Obatan Dalam Negeri

Ghina Nailal Husna • Senin, 8 Juni 2026 | 20:28 WIB
 BPOM Beri Sinyal Kenaikan Harga Obat-Obatan Dalam Negeri
BPOM Beri Sinyal Kenaikan Harga Obat-Obatan Dalam Negeri
 

RADAR KUDUS - Sektor kesehatan tanah air kini tengah bersiap menghadapi tantangan baru yang cukup berat. 

Di tengah gejolak ekonomi makro yang ditandai dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI secara terbuka memberikan sinyal adanya potensi kenaikan harga obat-obatan di pasar domestik dalam waktu dekat.

Kondisi ini menjadi konsekuensi logis yang tidak dapat dihindari, mengingat struktur industri farmasi di Indonesia hingga saat ini masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan bahan baku impor dari luar negeri.

Baca Juga: Hanya Beli Pertalite 25 Liter Pakai Jeriken, Dua Pemuda di Medan Terancam Denda Rp60 Miliar dan 6 Tahun Penjara

Industri Farmasi Terjepit Biaya Produksi yang Melambung

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa penyesuaian tarif eceran obat menjadi langkah darurat bagi para pelaku industri farmasi agar perusahaan mereka tetap dapat bertahan (survive).

Ketika nilai tukar dolar AS menguat, biaya yang harus dikeluarkan pabrikan untuk menebus Bahan Baku Obat (BBO) otomatis membengkak tajam, sehingga menggerus margin keuntungan dan meningkatkan beban biaya produksi secara keseluruhan.

Meski demikian, pemerintah memastikan tidak akan tinggal diam melihat situasi ini.

BPOM terus menjalin komunikasi intensif dengan para produsen agar kenaikan harga yang terjadi nantinya tidak sampai mencekik daya beli masyarakat luas.

"Tentu industri farmasi kita supaya bisa survive akan menaikkan (harga). Tapi kita dari pemerintah berharap kenaikannya jangan terlalu tinggi dan tidak membebani rakyat," ujar Taruna Ikrar saat ditemui awak media di Kantor BPOM, Jakarta Pusat.

Realitas Pahit: Dolar Meroket dan Perang Geopolitik Belum Usai

Taruna Ikrar juga mengajak publik untuk melihat realitas rantai pasok global saat ini secara objektif.

Menurutnya, kombinasi antara faktor moneter dan ketegangan geopolitik internasional menjadi pemicu utama yang membuat situasi ini kian kompleks untuk diurai dengan cepat.

"Kita tidak bisa bohong, harga dolar naik, perang (di tingkat global) masih jalan, bahan baku berkurang, otomatis harga naik sedikit.

Kita berharap jangan terlalu ekstrem naiknya," sambung Taruna dengan nada realistis.

Ketidakpastian situasi global dan konflik bersenjata di beberapa belahan dunia diakui telah mengganggu jalur logistik internasional.

Akibatnya, pasokan bahan baku menjadi langka, dan hukum ekonomi pun berlaku: ketika pasokan menipis namun permintaan tetap tinggi, harga modal di tingkat global otomatis terkerek naik.

Langkah Strategis BPOM Demi Jaga Stabilitas Harga

Guna meredam efek domino dari krisis ini agar tidak menghantam konsumen akhir, BPOM telah menyiapkan dan menandatangani sejumlah langkah strategis mitigasi risiko.

Ada beberapa opsi regulasi yang kini tengah digulirkan untuk mengendalikan harga obat di fasilitas kesehatan maupun apotek, di antaranya:

  • Penyusunan Ulang Formula Kemasan: Mendorong industri farmasi melakukan efisiensi dari sisi kemasan (packaging) luar tanpa mengurangi dosis, mutu, dan khasiat utama obat.

  • Diversifikasi Negara Pemasok BBO: Membantu memfasilitasi industri farmasi lokal untuk mencari dan memindahkan jalur kerja sama pasokan bahan baku dari negara produsen tradisional ke negara alternatif lain yang menawarkan harga lebih kompetitif.

"Bagaimana penggantian misalnya suplainya dari negara A, dia bisa pindah ke negara B.

Dengan kebijakan-kebijakan ini, yang kami sudah ditandatangani, saya yakin itu bisa menurunkan atau at least menstabilkan harga obat di dalam negeri," pungkas Taruna optimis.

Lewat intervensi kebijakan tersebut, pemerintah berharap akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial dan bermutu tinggi dapat tetap terjaga di tengah badai ekonomi yang sedang berlangsung. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Pelemahan Kurs Rupiah #Potensi Kenaikan Harga Obat #Kepala BPOM Taruna Ikrar #Impor Bahan Baku Obat #Krisis Farmasi Global 2026