RADAR KUDUS — Harga telur ayam ras di kalangan peternak merosot hingga Rp20.600 per kilogram setelah mengalami penurunan selama tiga bulan berturut-turut, mendorong pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan dan Badan Gizi Nasional, untuk menyerap kelebihan produksi sebanyak 12 persen melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penurunan harga yang mencapai titik terendah sejak Maret 2026 membuat para peternak mengeluh karena harga telur berada di bawah biaya produksi, meskipun harga pakan tetap tinggi.
Berdasarkan informasi dari Bapanas, harga telur ayam ras di tingkat peternak pada awal tahun ini mencapai puncak pada bulan Maret dengan rata-rata Rp27.236 per kilogram.
Setelah itu, harganya menurun menjadi Rp25.719 per kilogram di bulan April, Rp24.688 per kilogram di bulan Mei, dan kembali turun menjadi Rp24.424 per kilogram pada awal Juni 2026.
Baca Juga: BMKG Ungkap Prediksi El Nino 2026: Kemarau Lebih Kering dan Panjang di Indonesia
Rata-rata harga nasional tercatat Rp30.500 per kilogram pada 29 Mei 2026, sebelum turun lagi menjadi Rp30.150 per kilogram pada 1 Juni 2026, dan akhirnya di kalangan peternak mencapai Rp20.600 per kilogram.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa pemerintah telah meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk membantu menyerap telur ayam yang mengalami penurunan harga di tingkat peternak.
Langkah ini diambil setelah harga telur di beberapa daerah, terutama di Blitar Jawa Timur, mengalami penurunan yang signifikan sehingga mengganggu produksi.
Baca Juga: Waspada Dampak El Nino: Dari Karhutla sampai Gangguan Sektor Pertanian
Kementerian Perdagangan telah bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memastikan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah dengan harga telur menurun dapat menyerap hasil produksi dari para peternak.
Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian, juga mendorong peternak sapi perah di seluruh Indonesia untuk meningkatkan produksi susu dengan jaminan bahwa hasil produksi mereka akan diserap melalui skema pengadaan yang dioperasikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Namun, perhatian utama pada bulan Juni 2026 adalah penyerap surplus telur sebesar 12 persen melalui program MBG untuk menstabilkan harga bagi peternak.
Penyerapan telur melalui SPPG diharapkan dapat membantu menstabilkan harga di pusat produksi.
Baca Juga: OJK Ungkap 33.836 Rekening yang Terkait dengan Judi Online Diblokir
Di tengah tingginya biaya pakan, harga telur turun di bawah biaya produksi, sehingga Menteri Perdagangan siap merancang strategi penyerapan untuk meningkatkan harga telur.
Mendag meminta agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bantuan pangan dialokasikan untuk menyerap komoditas telur tersebut.
Penyerapan telur melalui SPPG diharapkan dapat membantu menstabilkan harga di sentra produksi, seperti Blitar yang mengalami penurunan sebesar Rp800 per kilogram.
Pemerintah berkomitmen untuk menyerap seluruh produksi telur dan daging ayam dari peternak masyarakat untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis yang menargetkan 82,9 juta penerima pada tahun 2026.
Badan Gizi Nasional juga telah menyalurkan dana sebesar Rp855 miliar pada awal tahun 2026 untuk menyerap produk dari petani dan peternak lokal, sebagai bukti komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan peternak.
Strategi penyerapan melalui MBG ini menjadi langkah utama untuk mengatasi kelebihan produksi 12 persen dan menjaga stabilitas harga telur yang anjlok di kalangan peternak pada Juni 2026. (*)
Editor : Anita Fitriani