RADAR KUDUS - Penunjukan Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Dadan Hindayana tidak hanya menarik perhatian karena faktor politik dan birokrasi. Latar belakang pendidikan perempuan asal Madiun, Jawa Timur, itu juga menjadi sorotan publik, terutama karena berkaitan dengan tugas besar BGN dalam mengawal Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di tengah evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pelaksanaan program gizi nasional, Presiden Prabowo Subianto memilih sosok yang tidak hanya memahami tata kelola pemerintahan, tetapi juga memiliki fondasi akademik di bidang ilmu hayati dan pengelolaan sumber daya.
Lulusan Biologi Universitas Jenderal Soedirman
Nanik Sudaryati Deyang menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah.
Bidang biologi dikenal mempelajari berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, nutrisi, lingkungan, hingga interaksi makhluk hidup dengan ekosistemnya. Meski tidak secara spesifik berasal dari disiplin ilmu gizi, pendidikan biologi memberikan pemahaman dasar yang kuat mengenai kesehatan manusia, kebutuhan nutrisi, serta faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Bekal akademik tersebut dinilai relevan dengan tugas BGN yang fokus pada peningkatan kualitas gizi anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok rentan lainnya.
Melanjutkan Pendidikan Magister di UGM
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Nanik melanjutkan studi ke jenjang Magister Ilmu Kehutanan di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pendidikan pascasarjana ini memperluas perspektifnya dalam pengelolaan sumber daya, perencanaan kebijakan, hingga pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks pemerintahan modern, kemampuan memahami hubungan antara sumber daya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat menjadi nilai penting dalam penyusunan program nasional.
Pengalaman akademik tersebut juga memperkuat kemampuan analisis dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan dalam memimpin lembaga strategis seperti BGN.
Yang membuat profil Nanik berbeda bukan hanya latar belakang pendidikannya, tetapi juga kombinasi antara ilmu akademik dan pengalaman profesional yang panjang.
Sebelum terjun ke dunia pemerintahan, Nanik dikenal sebagai jurnalis senior dan pimpinan media nasional. Karier tersebut membentuk kemampuannya dalam komunikasi publik, investigasi, serta pengawasan terhadap berbagai persoalan organisasi.
Ketika dipercaya menjadi Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi pada 2025, ia terlibat langsung dalam pengawasan Program Makan Bergizi Gratis. Posisi tersebut membuatnya memahami persoalan teknis maupun administratif yang terjadi di lapangan.
Tiga Faktor Pendidikan yang Dinilai Mendukung Kepemimpinannya
1. Memiliki Dasar Ilmu Kehidupan dan Kesehatan
Latar belakang pendidikan Biologi memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan, nutrisi, dan kualitas hidup manusia. Pengetahuan ini dianggap selaras dengan misi utama BGN dalam meningkatkan status gizi masyarakat Indonesia.
2. Terbiasa dengan Pendekatan Ilmiah dan Analitis
Pendidikan tinggi yang ditempuh Nanik membentuk pola pikir berbasis data dan analisis. Pendekatan semacam ini dibutuhkan dalam mengevaluasi program nasional yang melibatkan ribuan dapur MBG dan jutaan penerima manfaat.
3. Memahami Pengelolaan Sumber Daya dalam Skala Besar
Studi Magister Ilmu Kehutanan di UGM tidak hanya berbicara soal hutan, tetapi juga mengenai tata kelola sumber daya, perencanaan, pengawasan, dan keberlanjutan program. Kompetensi tersebut relevan dalam mengelola organisasi besar seperti BGN yang memiliki jaringan operasional di seluruh Indonesia.
Tantangan Baru di Puncak BGN
Kini, setelah resmi menggantikan Dadan Hindayana, Nanik menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Ia dituntut memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai standar kualitas, memperkuat pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas lembaga.
Di tengah sorotan publik terhadap tata kelola BGN, kombinasi antara pendidikan akademik, pengalaman jurnalistik, kemampuan investigasi, dan pemahaman birokrasi menjadi modal utama yang diharapkan mampu membawa perubahan.
Penunjukan Nanik S Deyang menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mempertimbangkan faktor politik dan pengalaman kerja, tetapi juga melihat rekam jejak pendidikan yang dinilai dapat mendukung pelaksanaan program gizi nasional secara lebih profesional dan terukur.
Editor : Mahendra Aditya