Unggahan tersebut menjadi perhatian publik karena terdapat ketidaksesuaian pada jumlah helai bulu Garuda yang ditampilkan, sehingga memicu berbagai tanggapan dari warganet.
Melalui akun resmi X miliknya, BRIN menyatakan penyesalan atas kekeliruan tersebut dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat.
“BRIN Indonesia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dalam tayangan konten peringatan Hari Lahir Pancasila yang telah kami bagikan,” tulis BRIN dalam pernyataan resminya yang dikutip pada Selasa (2/6).
Dalam penjelasannya, BRIN menegaskan bahwa insiden tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi institusi agar proses produksi dan publikasi konten dapat dilakukan dengan lebih teliti di masa mendatang.
Menurut BRIN, setiap materi yang dipublikasikan harus melalui pemeriksaan yang lebih cermat, terutama jika berkaitan dengan simbol-simbol kenegaraan yang memiliki makna penting bagi bangsa Indonesia.
“Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam proses pembuatan serta penyebaran konten di masa mendatang,” demikian lanjutan pernyataan tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab atas kekeliruan yang terjadi, BRIN menyatakan telah melakukan perbaikan terhadap konten yang sebelumnya diunggah.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari tindak lanjut evaluasi internal sekaligus komitmen lembaga untuk menjaga akurasi informasi yang disampaikan kepada publik.
“Sebagai bentuk tanggung jawab dan evaluasi internal, konten tersebut telah kami perbaiki,” tulis BRIN.
Selain itu, BRIN juga mengapresiasi masyarakat yang aktif memberikan kritik, masukan, dan perhatian terhadap kesalahan tersebut.
Lembaga riset pemerintah itu menilai partisipasi publik memiliki peran penting dalam mengawasi kinerja institusi negara, termasuk dalam memastikan penggunaan simbol nasional dilakukan secara tepat dan sesuai ketentuan.
“Kami menghaturkan terima kasih atas perhatian, masukan, dan kontrol dari seluruh lapisan masyarakat kepada BRIN,” tutup pernyataan tersebut.
Editor : Ali Mustofa