Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dampak Nyata Rupiah Melemah: Industri Tahu Rumahan di Banyuwangi Mulai Gulung Tikar

Ghina Nailal Husna • Sabtu, 30 Mei 2026 | 23:03 WIB
 Industri Tahu Rumahan di Banyuwangi Mulai Gulung Tikar
Industri Tahu Rumahan di Banyuwangi Mulai Gulung Tikar

 

RADAR KUDUS – Gelombang pelemahan nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga menyentuh level Rp17.861 per dolar Amerika Serikat (AS) kini mulai memukul telak sektor riil di berbagai daerah.

Dampak paling nyata dari fluktuasi kurs ini dirasakan langsung oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), salah satunya industri perajin tahu rumahan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang kini berada di ambang keterpurukan.

Sebagai komoditas pangan yang sangat bergantung pada bahan baku impor, lonjakan harga kedelai internasional menjadi momok menakutkan yang memaksa sejumlah pengusaha lokal menghentikan produksinya alias gulung tikar.

Baca Juga: Sulawesi Darurat Hidrometeorologi: Banjir Bandang dan Longsor Kepung Tiga Wilayah, Ratusan Warga Mengungsi

Harga Kedelai Impor Meroket Tajam dalam Lima Bulan

Para perajin tahu di Banyuwangi mengeluhkan ketidakstabilan harga kedelai impor yang merangkak naik secara signifikan dalam waktu singkat.

Dalam kurun waktu lima bulan terakhir, harga kedelai kualitas impor dilaporkan melonjak drastis dari yang semula berada di kisaran Rp8.500 per kilogram, kini telah menembus angka Rp10.500 per kilogram.

Kenaikan harga bahan baku utama yang mencapai lebih dari 20 persen ini otomatis mengacaukan kalkulasi biaya produksi harian para perajin.

Guna menyiasati pembengkakan biaya pengolahan dan menghindari kerugian yang lebih besar, sebagian pengusaha mengambil kebijakan taktis dengan memperkecil dimensi atau ukuran potongan tahu yang dijual ke pasar.

"Kami tidak berani menaikkan harga jual tahu di tingkat pengecer karena daya beli masyarakat saat ini sedang lesu dan sangat terbatas.

Jika harga dinaikkan, konsumen justru akan beralih. Menurunkan ukuran tahu adalah satu-satunya opsi realistis yang tersisa, meskipun margin keuntungan kami terpangkas habis," ujar salah satu perajin setempat.

Margin Keuntungan Menipis dan Beban Biaya Listrik yang Meningkat

Kondisi sulit para pelaku usaha kecil ini kian diperparah oleh akumulasi beban operasional lainnya.

Selain mahalnya kedelai, para perajin juga harus berhadapan dengan tren kenaikan tarif dasar listrik yang menjadi komponen penting dalam proses penggilingan kedelai mekanis.

Kombinasi antara meroketnya harga bahan baku dan tingginya biaya energi membuat arus kas (cash flow) usaha menjadi tidak sehat.

Bagi industri skala rumahan yang memiliki modal terbatas, menipisnya margin keuntungan ini menjadi pukulan fatal.

Akibatnya, satu per satu sentra produksi tahu di Banyuwangi terpaksa memilih untuk menutup total usahanya demi menghindari jeratan utang yang lebih dalam.

Dilema Ketergantungan Impor Kedelai Nasional

Tragedi runtuhnya industri tahu rumahan ini menjadi cerminan dari rapuhnya ketahanan pangan nasional terhadap gejolak mata uang asing.

Baca Juga: Jadi Bahan Candaan Anak di Rumah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Cari Kreator Lagu Viral "MBG"

Secara makro, Indonesia memang masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan kedelai luar negeri.

Saban tahunnya, Indonesia harus mengimpor sekitar 2,2 hingga 2,6 juta ton kedelai untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Ironisnya, hampir 90 persen dari total pasokan impor tersebut berasal dari Amerika Serikat.

Ketergantungan yang masif pada satu negara jangkar inilah yang menyebabkan setiap kali mata uang rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar AS, dampak inflasi barang impor (imported inflation) akan langsung memukul lini produksi makanan rakyat di dalam negeri secara instan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#perajin tahu Banyuwangi #dampak kurs UMKM #krisis bahan baku #rupiah melemah #harga kedelai impor