RADAR KUDUS - Riau kembali menghadapi ancaman serius penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD). Hingga April 2026, total kasus DBD di wilayah tersebut mencapai 1.682 kasus yang tersebar di 12 kabupaten dan kota, dengan 12 korban meninggal dunia.
Menyikapi lonjakan kasus tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Riau mengeluarkan surat edaran kepada seluruh dinas kesehatan kabupaten dan kota agar memperkuat langkah antisipasi serta pengendalian penyakit DBD.
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, menjelaskan bahwa DBD masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena dapat memicu kejadian luar biasa hingga kematian.
Penyakit ini disebabkan virus dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti.
Menurut data pemerintah daerah, sepanjang 2025 terdapat 4.618 kasus DBD terkonfirmasi di Riau dengan 35 korban meninggal.
Sementara pada 2026, hingga minggu ke-17, tercatat 2.321 kasus suspek dengue berdasarkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Untuk menekan penyebaran penyakit, pemerintah meminta seluruh daerah menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus secara rutin di kawasan rawan DBD dan chikungunya.
Edukasi masyarakat juga diminta terus digencarkan agar warga lebih sadar menjaga kebersihan lingkungan.
Selain itu, fasilitas kesehatan diminta meningkatkan deteksi dini dengan memastikan ketersediaan Rapid Diagnostic Test (RDT) dengue, terutama di wilayah dengan angka kasus tinggi.
Zulkifli menegaskan bahwa pasien dengan demam tinggi selama dua hari atau lebih harus segera menjalani pemeriksaan dengue, termasuk pengecekan hematokrit, hemoglobin, leukosit, dan trombosit.
Jika pasien mengalami nyeri sendi atau ruam, pemeriksaan tambahan untuk chikungunya juga diperlukan.
Petugas kesehatan juga diminta lebih waspada terhadap fase kritis DBD yang biasanya terjadi pada hari ketiga hingga ketujuh demam, terutama saat suhu tubuh mulai turun di bawah 38 derajat Celsius.
Dari seluruh daerah di Riau, Kabupaten Rokan Hilir menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 282 kasus dan empat kematian. Sementara Pekanbaru mencatat 251 kasus DBD.
Wilayah lain yang juga mencatat angka cukup tinggi antara lain Kabupaten Bengkalis dengan 230 kasus, Kota Dumai 208 kasus, Kabupaten Kampar 165 kasus, hingga Kuantan Singingi dengan 130 kasus.
Pemerintah Provinsi Riau berharap penguatan PSN 3M Plus, deteksi dini, dan kesadaran masyarakat dapat menekan lonjakan kasus DBD menjelang musim penghujan dan perubahan cuaca ekstrem.
Editor : Mahendra Aditya