RADAR KUDUS - Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Pelemahan kurs dinilai tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga perlahan menyentuh kehidupan masyarakat hingga ke daerah pedesaan.
Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut “rakyat desa tidak memakai dolar” memicu perdebatan publik.
Banyak ekonom menilai masyarakat tetap bisa terkena dampak secara tidak langsung karena sejumlah kebutuhan pokok Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.
Kenaikan dolar membuat biaya impor ikut melonjak. Akibatnya, harga produk berbasis gandum dan kedelai seperti mie instan, roti, tahu, tempe, hingga susu berpotensi mengalami kenaikan dalam beberapa waktu ke depan.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan tekanan terhadap rupiah berasal dari situasi global yang belum stabil.
Penguatan dolar AS dipicu suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat atau The Fed, ditambah lonjakan harga minyak dunia dan memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, kombinasi faktor tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan besar di pasar global.
Dari sisi domestik, kondisi fiskal juga ikut menjadi perhatian. Risiko pelebaran defisit anggaran serta tingginya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah dinilai ikut membebani stabilitas nilai tukar rupiah.
Ekonom Wijayanto Samirin menilai pelemahan rupiah dapat memicu efek domino ke sektor riil.
Ketika harga bahan baku impor naik di tingkat produsen, maka biaya produksi otomatis meningkat dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.
Hal serupa disampaikan Guru Besar Rahma Gafmi yang menyebut kenaikan harga sudah mulai terasa pada sejumlah komoditas impor, terutama gandum dan kedelai.
Artinya, dampak pelemahan rupiah bukan lagi sekadar ancaman jangka panjang, tetapi mulai bergerak di pasar domestik.
Jika kurs dolar terus bertahan tinggi, tekanan harga diperkirakan semakin terasa dalam beberapa bulan mendatang.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun juga mengingatkan bahwa industri nasional akan menghadapi kenaikan biaya produksi.
Beban tersebut berpotensi diteruskan ke masyarakat dalam bentuk harga barang yang lebih mahal.
Sejumlah pengamat ekonomi turut menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.
Selama kebutuhan pangan dan industri masih banyak bergantung pada pasar luar negeri, gejolak kurs dolar akan terus memengaruhi harga barang di dalam negeri.
Meski begitu, pemerintah dan Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi, termasuk intervensi pasar valuta asing dan menjaga inflasi agar daya beli masyarakat tidak jatuh terlalu dalam.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga memberi keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Namun bagi masyarakat umum, dampak yang paling cepat dirasakan tetap berasal dari kenaikan harga kebutuhan harian yang berkaitan dengan impor.
Editor : Mahendra Aditya