Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Biaya Bahan Baku Plastik Melonjak, INAPLAS Pastikan Sektor Petrokimia Tetap Bertahan Tanpa PHK

Ghina Nailal Husna • Jumat, 15 Mei 2026 | 19:05 WIB
INAPLAS Pastikan Sektor Petrokimia Tetap Bertahan Tanpa PHK
INAPLAS Pastikan Sektor Petrokimia Tetap Bertahan Tanpa PHK

 

RADAR KUDUS – Ketegangan geopolitik global dan fluktuasi nilai tukar mata uang telah berdampak langsung pada kenaikan harga komoditas dunia, termasuk bahan baku plastik.

Namun, di tengah tekanan biaya produksi yang membengkak, Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS) membawa kabar melegakan terkait kondisi ketenagakerjaan di sektor tersebut.

Pihak asosiasi menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di industri petrokimia dan plastik nasional.

Baca Juga: Transformasi Pendidikan Tinggi: Pemerintah Resmi Ubah Nama Jurusan 'Teknik' Menjadi 'Rekayasa'

Pelaku usaha lebih memilih strategi efisiensi internal dibandingkan harus merumahkan karyawan.

Ketua Umum INAPLAS, Suhat Miyarso, mengungkapkan bahwa meskipun sektor manufaktur sempat terguncang oleh ketidakstabilan ekonomi global, perusahaan-perusahaan anggota asosiasi tetap menunjukkan resiliensi yang kuat.

Fokus utama para pelaku industri saat ini adalah melakukan penyesuaian operasional yang cermat untuk menjaga ritme produksi tetap berjalan.

"Hingga saat ini, kami belum menerima laporan mengenai adanya PHK dari perusahaan-perusahaan anggota.

Kami berupaya keras menjaga stabilitas produksi meskipun margin keuntungan tertekan akibat kenaikan biaya input," tegas Suhat dalam keterangan resminya, Jumat (15/5/2026).

Selain menjaga tenaga kerja, tantangan terbesar industri saat ini adalah mengamankan rantai pasok bahan baku yang sering kali terganggu oleh konflik internasional dan kendala logistik.

Wakil Ketua Umum INAPLAS, Edi Rivai, menjelaskan bahwa para pelaku usaha kini tengah melakukan diversifikasi jalur pengadaan bahan baku melalui berbagai mitra internasional.

Langkah ini diambil untuk memastikan pabrik-pabrik di dalam negeri tidak mengalami kekosongan bahan baku (stockout).

  • Pasokan Baru: Bahan baku untuk periode Mei hingga Juni dilaporkan sudah mulai masuk ke pelabuhan-pelabuhan Indonesia.

  • Konsekuensi Biaya: Meski pasokan tersedia, industri harus merogoh kocek lebih dalam karena harga perolehan yang lebih mahal dibandingkan periode sebelumnya.

  • Optimisme Industri: Masuknya pasokan ini memberikan angin segar bagi keberlangsungan industri manufaktur plastik hilir yang sangat bergantung pada kestabilan bahan baku hulu.

Baca Juga: Dunia Internasional Soroti Tuntutan 18 Tahun Penjara Nadiem Makarim: Sinyal Bahaya bagi Investor?

INAPLAS mengakui bahwa situasi ke depan masih sangat bergantung pada kondisi geopolitik global yang terus memanas.

Namun, dengan perbaikan manajemen inventori dan efisiensi energi di tingkat pabrik, industri plastik nasional diharapkan mampu melewati masa sulit ini tanpa harus mengorbankan sumber daya manusia mereka.

Keberlanjutan operasional tanpa PHK ini juga dipandang sebagai kontribusi penting sektor petrokimia dalam menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional di tengah ancaman inflasi barang-barang konsumsi. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Industri Plastik #INAPLAS #Bahan Baku Petrokimia #Ketenagakerjaan Indonesia #Strategi bisnis