Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kisah Haru Jemaah Muhammadiyah Semarang, Korbankan Umrah Sunah demi Tarwiyah Haji 2026

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 15 Mei 2026 | 08:41 WIB
Ilustrasi rangkaian ibadah haji di Kabah. (Gemini AI)
Ilustrasi rangkaian ibadah haji di Kabah. (Gemini AI)

RADAR KUDUS - Perjuangan jemaah Kloter 28 SOC Muhammadiyah Semarang dalam menjalani Tarwiyah Haji 2026 menjadi sorotan.

Demi meneladani sunah Rasulullah SAW, para jemaah rela mengambil jalur mandiri untuk mabit di Mina, bahkan harus menandatangani surat bermeterai yang menyatakan seluruh risiko di luar tanggung jawab negara.

Langkah tersebut dilakukan agar para jemaah bisa menjalankan prosesi tarwiyah pada 8 Zulhijah, yakni bermalam di Mina sebelum bergerak menuju Arafah untuk wukuf.

Tradisi ini memang tidak masuk dalam skema utama haji reguler Indonesia, namun Muhammadiyah selama ini dikenal konsisten mendorong pelaksanaan sunah tersebut.

Di balik keputusan itu, tersimpan perjuangan panjang para pengurus kafilah. Ketua Kafilah KBIH Muhammadiyah Semarang, Dr. Mafrukhi, mengungkapkan proses negosiasi dengan pihak maktab berlangsung cukup alot. Awalnya biaya tarwiyah dipatok sebesar 270 riyal Saudi per orang.

“Alhamdulillah, akhirnya ada kesepakatan. Dari 270 SAR turun menjadi 200 SAR per jemaah,” ujar Mafrukhi dalam keterangannya di Makkah.

Kesepakatan tersebut menjadi angin segar bagi jemaah. Dengan biaya sekitar 200 SAR atau setara kurang lebih Rp860 ribu, pihak maktab akan menyediakan fasilitas transportasi menuju Mina serta konsumsi penuh selama pelaksanaan mabit berlangsung.

Jemaah mendapatkan makan tiga kali sehari sejak malam 7 Zulhijah hingga seluruh rangkaian tarwiyah selesai.

Fasilitas itu dianggap penting mengingat kondisi Mina yang sangat padat saat musim haji berlangsung.

Namun keputusan mengambil program mandiri ini juga memiliki konsekuensi besar.

Pemerintah Indonesia secara resmi tidak menanggung risiko operasional tarwiyah karena berada di luar skema layanan haji reguler.

Karena itulah seluruh jemaah diwajibkan menandatangani surat persetujuan bermeterai sebelum berangkat menuju Mina.

“Segala risiko tidak ditanggung negara, tetapi hak kewarganegaraan tetap diperhatikan,” ujar salah satu pembimbing ibadah saat visitasi ke hotel jemaah di Makkah.

Tak hanya soal administrasi dan biaya tambahan, jemaah juga harus menjaga kondisi fisik ekstra ketat.

Petugas kesehatan bahkan meminta mereka menghentikan sementara aktivitas umrah sunah demi menjaga stamina menghadapi puncak ibadah haji di Armuzna.

Pembimbing ibadah Kloter 28 SOC, Ustaz Drs. H. Nurbini, mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan ibadah tambahan yang bisa menguras tenaga.

“Rasulullah selama hidup melaksanakan haji dua kali dan umrah empat kali,” ujar Nurbini untuk menenangkan jemaah yang ingin terus beribadah di Masjidil Haram.

Cuaca ekstrem di Makkah juga menjadi perhatian serius. Suhu tinggi dan kepadatan jemaah membuat pengurus meminta seluruh peserta fokus menjaga kesehatan dibanding mengejar ibadah sunah tambahan.

Bagi rombongan Muhammadiyah Semarang, perjalanan Tarwiyah Haji 2026 bukan hanya soal perjalanan fisik menuju Mina.

Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi simbol keikhlasan, pengorbanan, dan totalitas dalam mengikuti jejak Rasulullah SAW.

Kerelaan meneken surat risiko, membayar biaya tambahan pribadi, hingga menahan diri dari umrah sunah dianggap sebagai bagian dari proses menuju haji mabrur yang sesungguhnya.

Editor : Mahendra Aditya
#Tarwiyah Haji 2026 #Muhammadiyah Semarang #mabit di Mina #biaya tarwiyah #jemaah haji indonesia