RADAR KUDUS – Pemeriksaan bagasi di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, mendadak riuh setelah petugas pemindai X-Ray menemukan objek mencurigakan dalam salah satu koper jemaah haji Indonesia.
Setelah dilakukan pemeriksaan manual dan pembongkaran, petugas dikejutkan dengan tumpukan makanan khas tanah air, yakni tempe orek, dengan berat mencapai lima kilogram.
Kejadian ini menimpa salah satu jemaah haji asal embarkasi Palembang yang baru saja mendarat di tanah suci untuk menunaikan ibadah haji tahun 1447 H / 2026 M.
Ketegangan sempat terjadi saat koper tersebut melewati mesin pemindai. Petugas keamanan bandara Arab Saudi merasa asing dengan tampilan visual yang muncul di layar monitor.
Objek tersebut tampak padat, berkerumun, dan memiliki tekstur yang tidak umum bagi standar bagasi internasional mereka.
Muhammad Riza Fahlevi, anggota Tim Bagasi Bandara Jeddah, memberikan penjelasan terkait insiden tersebut.
Ia menyebutkan bahwa petugas bandara awalnya tidak mengenali jenis benda tersebut karena jumlahnya yang sangat masif untuk satu koper.
"Petugas bandara curiga karena tampilannya di layar X-Ray tidak biasa. Ternyata setelah dibongkar, isinya tempe orek berkilo-kilogram.
Kami segera memberikan penjelasan kepada petugas otoritas Saudi bahwa itu adalah makanan kering yang lazim dibawa orang Indonesia," ujar Riza.
Beruntung, berkat kesigapan petugas pendamping haji Indonesia yang memberikan edukasi kepada otoritas bandara, tempe orek tersebut tidak disita.
Setelah memahami bahwa benda cokelat tersebut adalah olahan kedelai yang aman dikonsumsi dan merupakan bekal makanan, petugas akhirnya mengizinkan jemaah membawa kembali barang tersebut.
Selain tempe orek raksasa, petugas juga sempat memeriksa barang lain yang dikemas secara tidak lazim, yakni minyak zaitun yang dibungkus berlapis-lapis menggunakan lakban.
Hal ini dilakukan jemaah untuk mencegah kebocoran yang dapat merusak pakaian di dalam koper, meski justru memicu kecurigaan awal petugas keamanan.
Kejadian ini pun memicu perbincangan hangat di kalangan warganet. Banyak yang merasa maklum sekaligus terhibur dengan kebiasaan jemaah haji Indonesia yang kerap membawa bekal makanan kering dalam jumlah besar, seperti rendang, teri kacang, hingga tempe orek.
Membawa bekal dari rumah dianggap sebagai solusi bagi jemaah untuk menjaga selera makan selama berada di luar negeri, mengingat masa tinggal di Arab Saudi yang cukup lama, yakni sekitar 40 hari.
Pihak penyelenggara haji sendiri terus mengimbau agar jemaah tetap memperhatikan aturan berat bagasi dan memastikan kemasan makanan tidak memicu kecurigaan atau kebocoran yang dapat mengganggu sistem keamanan bandara. (*)