Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

SPPG Surabaya Tunggu Hasil Lab, Menu Daging Diduga Jadi Penyebab Keracunan

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 12 Mei 2026 | 16:31 WIB
 Asosiasi Pengusaha Dapur Desak Program Makan Bergizi Gratis Berlanjut hingga 25 Tahun
Ilustrasi foto tempat makan MBG

RADAR KUDUS - Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian publik. Insiden tersebut terjadi pada Senin pagi, 11 Mei 2026, dan melibatkan siswa dari berbagai jenjang pendidikan.

Peristiwa itu memicu sorotan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Tembok Dukuh yang menyiapkan menu MBG untuk sejumlah sekolah di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil pantauan di lokasi, paket makanan yang dibagikan kepada siswa berisi nasi putih, lauk daging krengsengan, tahu goreng, tumis sayur kacang panjang dan wortel, serta potongan buah jeruk sebagai pelengkap.

Seluruh makanan dikemas menggunakan ompreng berbahan stainless steel dengan sekat terpisah agar setiap menu tidak bercampur satu sama lain.

Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terkait penyebab pasti insiden tersebut. Namun, dugaan awal mengarah pada lauk berbahan daging krengsengan yang disajikan kepada siswa.

Menurut Chafi, kemungkinan kontaminasi tidak hanya berasal dari lauk, tetapi juga bisa menyebar ke nasi dan komponen makanan lain di dalam wadah makan.

Meski demikian, ia memastikan bahan makanan yang digunakan dalam kondisi segar saat diterima pihak dapur. Proses pengolahan hingga distribusi makanan juga disebut sudah mengikuti standar operasional yang berlaku dalam program MBG.

Ia menjelaskan bahwa daging yang digunakan tidak dalam kondisi basi dan telah diolah sesuai resep serta prosedur memasak yang telah ditetapkan.

Proses memasak sendiri dilakukan sejak Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Setelah selesai disiapkan, paket makanan kemudian didistribusikan ke 13 sekolah pada Senin pagi sekitar pukul 09.00 WIB.

Chafi menegaskan pihaknya tidak ingin berspekulasi lebih jauh mengenai sumber pasti keracunan sebelum hasil uji laboratorium keluar. Sampel makanan kini tengah diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLK) Surabaya.

Ia juga memastikan pihak SPPG akan bertanggung jawab terhadap siswa yang terdampak dan menjadikan insiden ini sebagai bahan evaluasi menyeluruh untuk perbaikan ke depan.

Sementara itu, ratusan siswa dari 12 sekolah tingkat TK, SD, dan SMP dilaporkan mengalami gejala seperti mual dan pusing setelah menyantap menu MBG tersebut.

Para siswa yang mengalami keluhan langsung mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Tembok Dukuh dan RSIA IBI Surabaya.

Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, drg Tyas Pranadani, menyebut jumlah siswa yang diduga terdampak mencapai sekitar 200 orang. Seluruh korban diketahui menerima makanan dari dapur SPPG yang sama.

Berdasarkan laporan sementara dari pihak sekolah, dugaan keracunan kemungkinan dipicu oleh menu berbahan daging yang baru kali ini disajikan kepada siswa penerima MBG.

Menurut Tyas, sebelumnya para siswa jarang menerima lauk daging dalam paket makanan MBG. Karena itu, dugaan sementara mengarah pada menu tersebut, meski penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium resmi.

Kasus ini kini menjadi perhatian banyak pihak, terutama terkait pengawasan kualitas makanan dalam program MBG agar keamanan konsumsi siswa tetap terjamin.

Editor : Mahendra Aditya
#keracunan MBG Surabaya #SPPG Tembok Dukuh #daging krengsengan #siswa keracunan Surabaya #Makan Bergizi Gratis