Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bukan Mafia, "Yakuza" di Kediri Justru Jadi Wadah Hijrah dan Pengabdian Sosial

Ghina Nailal Husna • Selasa, 12 Mei 2026 | 13:17 WIB
 "Yakuza" di Kediri Justru Jadi Wadah Hijrah dan Pengabdian Sosial
"Yakuza" di Kediri Justru Jadi Wadah Hijrah dan Pengabdian Sosial

 

RADAR KUDUS – Nama "Yakuza" selama puluhan tahun identik dengan sindikat kejahatan terorganisir yang ditakuti di Jepang. Namun, pemandangan berbeda justru muncul di Kediri, Jawa Timur.

Sebuah organisasi bernama Yakuza Maneges resmi mendeklarasikan kehadirannya, bukan untuk aktivitas kriminal, melainkan sebagai komunitas sosial yang berfokus pada kegiatan religi dan kemanusiaan.

Kemunculan kelompok dengan nama provokatif ini mendadak viral di media sosial, memicu perdebatan sekaligus rasa penasaran di kalangan netizen mengenai filosofi dan tujuan di balik pendiriannya.

Baca Juga: Guncangan Geopolitik: Rupiah Tembus Rp17.508 per Dolar AS, Rekor Terlemah dalam Sejarah Indonesia

Pihak pengurus organisasi menyadari bahwa penggunaan nama "Yakuza" akan memancing kontroversi. Namun, mereka menegaskan bahwa nama tersebut sengaja dipilih sebagai simbol transformasi.

Jika Yakuza di Jepang dikenal sebagai kelompok yang bergerak di dunia bawah, Yakuza Maneges justru ingin menjadi wadah bagi mereka yang memiliki masa lalu kelam untuk berbalik arah menuju jalan yang lebih positif.

Organisasi ini diketahui berada di bawah naungan Majelis Sema'an Al-Quran dan Dzikirul Ghofilin, sebuah gerakan keagamaan yang memiliki akar kuat di wilayah Kediri dan sekitarnya.

Hal ini mempertegas bahwa aktivitas utama mereka tak jauh dari nilai-nilai spiritual dan pembinaan mental.

Dalam acara deklarasi dan peresmiannya yang dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat serta perwakilan aparat daerah, organisasi ini membawa pesan yang menyentuh hati: kesempatan kedua.

"Kami ingin merangkul teman-teman yang mungkin dulu dianggap 'pinggiran' atau memiliki latar belakang keras agar memiliki wadah untuk memperbaiki diri tanpa merasa dihakimi.

Nama ini hanyalah simbol semangat untuk berubah bersama-sama dalam solidaritas yang positif," ujar salah satu perwakilan penyelenggara.

Poin utama yang ditekankan dalam deklarasi tersebut antara lain:

  • Anti-Kriminalitas: Menolak keras segala bentuk aktivitas yang melanggar hukum dan norma sosial.

  • Aksi Kemanusiaan: Fokus pada kegiatan bakti sosial, membantu warga kurang mampu, dan pengajian rutin.

  • Wadah Hijrah: Memberikan bimbingan bagi anggota yang ingin meninggalkan kehidupan jalanan menuju kehidupan yang lebih tertata.

Baca Juga: Biaya Penindakan Mahal, Ketua KPK: Negara Bahkan Harus Tanggung Makan dan Baju Koruptor

Kehadiran Yakuza Maneges disambut beragam oleh masyarakat. Sebagian mengapresiasi upaya "jemput bola" terhadap kaum marjinal agar lebih religius, namun sebagian lainnya tetap mengkritik penggunaan nama yang dianggap terlalu ekstrem.

Meskipun menyandang nama yang unik, kehadiran aparat keamanan dalam acara peresmian menunjukkan bahwa organisasi ini telah menjalin koordinasi dengan pihak berwenang guna memastikan bahwa aktivitas mereka tetap berada dalam koridor hukum Indonesia.

Hingga saat ini, Yakuza Maneges terus aktif melakukan sosialisasi untuk mengubah persepsi publik—bahwa meski namanya terkesan sangar, hati dan aksi mereka tetaplah untuk kemaslahatan masyarakat Kediri. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Yakuza Maneges #Dzikirul Ghofilin #hijrah #kediri #kegiatan sosial