Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Alarm Lingkungan: Bekasi Tempati Posisi Kedua Sumber Emisi Metana Terbesar Dunia Akibat TPST Bantargebang

Ghina Nailal Husna • Rabu, 6 Mei 2026 | 17:03 WIB
Bekasi Tempati Posisi Kedua Sumber Emisi Metana Terbesar Dunia Akibat TPST Bantargebang
Bekasi Tempati Posisi Kedua Sumber Emisi Metana Terbesar Dunia Akibat TPST Bantargebang

 

RADAR KUDUS – Kota Bekasi kini tengah menjadi sorotan dunia dalam isu perubahan iklim. Berdasarkan data pemantauan satelit terbaru, wilayah ini terdeteksi sebagai salah satu kontributor emisi gas metana ($CH_4$) terbesar di planet bumi.

Titik pusat emisi ini terfokus pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, yang kini menyandang predikat sebagai sumber emisi metana terbesar kedua secara global.

Data ini memicu kekhawatiran serius mengenai kualitas udara di kawasan satelit Jakarta tersebut serta dampaknya terhadap target penurunan emisi gas rumah kaca nasional.

Baca Juga: PSIS Mau Naik Kasta? Ini Syarat Keras dari Otavio Dutra yang Tak Bisa Ditawar

Lembaga riset internasional melaporkan bahwa TPST Bantargebang melepaskan sekitar 6,3 ton gas metana ke atmosfer setiap jam. 

Angka yang fantastis ini hanya terpaut sedikit di bawah tempat pembuangan sampah Campo de Mayo di Argentina yang menduduki peringkat pertama dunia.

Temuan ini diperoleh melalui integrasi teknologi pemantauan canggih berbasis satelit yang mampu mendeteksi "titik panas" emisi secara presisi. Beberapa instrumen yang digunakan meliputi:

Carbon Mapper: Organisasi nirlaba yang berfokus pada pelacakan sumber emisi gas rumah kaca.

Satelit Tanager-1: Milik Planet Labs yang memiliki kemampuan pencitraan hiperspektral.

Instrumen EMIT NASA: Perangkat pemantauan debu dan mineral yang terpasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Meskipun karbon dioksida ($CO_2$) lebih sering dibicarakan dalam isu pemanasan global, metana sebenarnya memiliki potensi pemanasan yang jauh lebih agresif.

Dalam kurun waktu 20 tahun, daya rusak metana dalam memerangkap panas di atmosfer mencapai 80 kali lebih kuat dibandingkan $CO_2$.

Selain kontribusinya terhadap kenaikan suhu bumi, emisi metana yang tinggi di Bekasi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Gas ini merupakan prekursor utama pembentukan ozon troposfer (ozon permukaan). 

Berbeda dengan lapisan ozon di stratosfer yang melindungi bumi, ozon di tingkat permukaan ini bersifat beracun dan dapat memicu gangguan saluran pernapasan akut, asma, hingga penurunan fungsi paru-paru bagi warga di sekitar area pembuangan sampah.

Tingginya emisi di Bantargebang tidak lepas dari volume sampah yang mencapai lebih dari 7.000 ton per hari.

Baca Juga: Polisi Mintai Keterangan Korban Kekerasan Seksual di Mayong, Semula Ditawari Kerja ART malah Diperkosa Ramai-ramai 

Pola pengelolaan sampah yang masih mengandalkan sistem open dumping atau penumpukan terbuka membuat proses dekomposisi anaerobik (tanpa oksigen) berlangsung masif, yang secara alami menghasilkan gas metana.

Temuan internasional ini menjadi pengingat keras bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana lingkungan, melainkan kebutuhan mendesak bagi keamanan kesehatan dan iklim.

Transformasi menuju teknologi Waste-to-Energy (WtE), penangkapan gas metana (methane capture), serta pengurangan sampah dari hulu menjadi kunci utama agar Bekasi tidak lagi menyandang gelar sebagai "Kota Beracun". (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Emisi Metana Bekasi #TPST Bantargebang #Carbon Mapper #pemanasan global #gas rumah kaca