RADAR KUDUS - PT Pertamina (Persero) resmi menyusul langkah badan usaha swasta dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi per Senin (4/5/2026). Kenaikan ini didominasi oleh jenis bahan bakar diesel dan oktan tinggi, dipicu oleh melambungnya harga minyak mentah dunia serta fluktuasi nilai tukar rupiah.
Keputusan penyesuaian harga ini merupakan implementasi dari Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Sebelumnya, SPBU swasta seperti Vivo dan BP-AKR telah lebih dulu mengerek harga mereka sejak Sabtu (2/5), di mana produk diesel unggulan mereka kini menyentuh angka Rp30.890 per liter.
Baca Juga: RESMI! Harga Pertamina Dex Naik, Segini Nominalnya
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa harga BBM non-subsidi akan selalu mengikuti mekanisme pasar karena peruntukannya bagi kelompok masyarakat mampu. Meski demikian, ia menjamin bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak akan mengalami kenaikan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Untuk BBM subsidi, insyaallah tidak akan ada kenaikan, termasuk LPG. Kita jaga itu untuk melindungi masyarakat (rentan)," ujar Bahlil dalam keterangan resminya di Jakarta.
Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menilai langkah penyesuaian ini sudah tidak terhindarkan. Ia menunjuk adanya kesenjangan lebar antara asumsi APBN 2026 yang mematok harga minyak mentah USD 70 per barel, sementara realita pasar saat ini telah melampaui USD 110 per barel.
Baca Juga: Jadi Rp 27.900, Harga BBM Pertamina Naik per 4 Mei
Daftar Harga BBM Terbaru di Jabodetabek (Berlaku 4 Mei 2026)
Berikut adalah rincian harga bahan bakar di berbagai operator SPBU berdasarkan pantauan terbaru:
PT Pertamina (Persero)
Pertamina Dex (CN 53): Rp27.900 per liter (Naik dari Rp23.900)
Dexlite (CN 51): Rp26.000 per liter (Naik dari Rp23.600)
Pertamax Turbo (RON 98): Rp19.900 per liter (Naik dari Rp19.400)
Pertamax (RON 92): Rp12.300 per liter (Tetap)
Pertamax Green (RON 95): Rp12.900 per liter (Tetap)
Pertalite (RON 90): Rp10.000 per liter (Tetap/Subsidi)
Biosolar: Rp6.800 per liter (Tetap/Subsidi)
SPBU Swasta (Vivo & BP-AKR)
Diesel Primus (Vivo): Rp30.890 per liter (Naik dari Rp25.560)
BP Ultimate Diesel: Rp30.890 per liter (Naik dari Rp25.560)
Revvo 92 / BP 92: Rp12.390 per liter
Strategi Ketahanan Energi Nasional
Di tengah tekanan geopolitik global, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM juga tengah menjalankan beberapa langkah strategis guna mengurangi ketergantungan impor dan menjaga stok energi:
Diversifikasi Sumber Impor: Mengalihkan peta impor minyak mentah dari Timur Tengah ke negara alternatif seperti Angola, Nigeria, Amerika Serikat, hingga Rusia guna menghindari risiko distribusi di Selat Hormuz.
Target Swasembada Solar: Pemerintah optimis pada tahun 2026 Indonesia tidak lagi melakukan impor solar berkat keberhasilan program biodiesel B40 yang akan ditingkatkan menjadi B50.
Optimalisasi Sumur Idle: Melakukan aktivasi kembali pada ribuan sumur minyak yang tidak produktif melalui intervensi teknologi untuk meningkatkan lifting domestik.
Mandatory Bioetanol: Mempercepat program E20 pada tahun 2028 sebagai substitusi bensin guna menekan konsumsi BBM berbasis fosil. (*)
Editor : Zakaria