RADAR KUDUS – Pihak manajemen Green SM Indonesia akhirnya resmi memberikan pernyataan terkait keterlibatan salah satu unit armada taksi listriknya dalam kecelakaan maut di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur.
Namun, alih-alih meredam suasana, pernyataan tersebut justru memicu gelombang kritik pedas dari masyarakat di jagat maya.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, @id.greensm, perusahaan taksi listrik ini menyatakan bahwa mereka menaruh perhatian penuh pada insiden yang melibatkan armadanya dengan rangkaian kereta yang melintas pada Senin (27/4). Dalam keterangan tertulis tersebut, Green SM menegaskan telah bersikap kooperatif dengan pihak berwenang.
"Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang, serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung," tulis manajemen Green SM Indonesia.
Selain itu, perusahaan menekankan komitmen mereka terhadap standar keselamatan melalui sistem operasional dan pengawasan.
Namun, pernyataan ini segera diserbu warganet. Banyak pihak menyayangkan isi klarifikasi tersebut yang dinilai terlalu kaku dan bersifat administratif.
Publik menyoroti tidak adanya kalimat simpati, ucapan duka cita, maupun permohonan maaf yang ditujukan kepada para korban terdampak tabrakan beruntun tersebut.
Di saat pihak operator taksi memberikan klarifikasi teknis, kondisi di lapangan justru semakin memprihatinkan.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, memberikan pembaruan data yang menunjukkan eskalasi serius pada jumlah korban.
"Update terbaru menunjukkan korban meninggal dunia saat ini berjumlah lima orang. Sementara itu, tim di lapangan masih berupaya keras mengeluarkan sekitar tiga orang penumpang yang masih terperangkap di dalam material gerbong," ujar Bobby Rasyidin sebagaimana dikutip dari detikcom.
Data medis mencatat sebanyak 79 penumpang mengalami luka-luka, mulai dari luka ringan hingga fraktur serius.
Seluruh korban luka telah dievakuasi ke berbagai fasilitas kesehatan di wilayah Bekasi untuk mendapatkan penanganan darurat.
Meski Green SM mengonfirmasi bahwa pengemudi taksi selamat dan tidak ada penumpang di dalam mobil saat kejadian "temperan" awal terjadi, investigasi kini bergeser pada dampak domino yang ditimbulkan.
Berhentinya KRL akibat menabrak taksi tersebut menjadi pemicu utama KA Argo Bromo Anggrek menghantam rangkaian KRL dari belakang.
Kini, perhatian publik tidak hanya tertuju pada proses hukum dan teknis di lapangan, tetapi juga pada etika tanggung jawab moral perusahaan penyedia jasa transportasi dalam menghadapi tragedi kemanusiaan sebesar ini. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna