RADAR KUDUS – Gangguan hebat yang melanda perjalanan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur mulai menemui titik terang.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut dipicu oleh aksi "temperan" atau tabrakan yang melibatkan sebuah armada taksi di perlintasan sebidang.
Menurut penjelasan resmi pihak manajemen, insiden bermula di perlintasan JPL 85. Sebuah armada taksi berwarna hijau diduga menerobos atau terjebak di area terlarang saat rangkaian kereta sedang melintas.
Kontak fisik antara kendaraan roda empat dan rangkaian kereta tersebut tidak hanya merusak material, tetapi juga berdampak sistemik pada sistem persinyalan di area emplasemen Bekasi Timur.
"Kejadian ini berawal dari adanya temperan taksi di JPL 85. Dampaknya cukup signifikan karena memicu gangguan pada sistem perkeretaapian di seluruh area tersebut," ungkap Bobby Rasyidin dalam keterangannya kepada media.
Meskipun pemicu awal telah diidentifikasi, PT KAI belum memberikan kesimpulan final mengenai detail teknis kecelakaan.
Bobby menegaskan bahwa pihaknya sangat berhati-hati dan memilih untuk menunggu hasil investigasi mendalam dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna memastikan apakah ada faktor kegagalan teknis lain di samping faktor eksternal tersebut.
Di sisi lain, pihak manajemen Green SM Indonesia, selaku operator taksi yang terlibat, menyatakan kooperatif terhadap proses hukum yang berjalan.
Mereka memastikan telah menyerahkan seluruh data operasional dan informasi yang diperlukan kepada pihak berwenang untuk mendukung percepatan penyelidikan.
Hingga saat ini, normalisasi jalur terus dilakukan untuk memastikan jadwal perjalanan KRL dan kereta jarak jauh kembali stabil.
Para pengguna jasa diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi rambu-rambu di setiap perlintasan sebidang demi keselamatan bersama. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna