RADAR KUDUS – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bergerak cepat dalam mengamankan rantai pasok pangan guna menyukseskan program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mengingat skala kebutuhan yang masif, Kadin secara terbuka menyatakan peluang kolaborasi dengan para pelaku usaha dan investor dari China untuk memperkuat sektor peternakan dan pengolahan pangan domestik.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengungkapkan bahwa volume kebutuhan pangan untuk program MBG berada pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Berdasarkan kalkulasi nasional, program ini diprediksi memerlukan pasokan sekitar 24 juta butir telur setiap harinya, atau setara dengan lebih dari 700 juta butir per bulan.
Kebutuhan sebesar ini menciptakan tantangan sekaligus peluang besar bagi industri pangan dalam negeri.
Namun, Anindya mengakui adanya gap atau kesenjangan yang nyata antara kapasitas produksi peternak lokal saat ini dengan target permintaan yang dicanangkan pemerintah.
"Kebutuhannya sangat luar biasa besar. Kita bicara soal 700 juta butir telur dalam sebulan. Ini memerlukan penguatan rantai pasok yang sangat solid dari hulu ke hilir," ujar Anindya.
Fokus kolaborasi dengan investor asal Negeri Tirai Bambu ini diarahkan pada tiga komoditas utama: telur, ayam, dan susu.
Kadin menilai China memiliki keunggulan dalam hal teknologi peternakan skala industri (industrial farming) serta efisiensi sistem distribusi yang dapat diadopsi di Indonesia.
Kerja sama ini diharapkan tidak hanya berupa impor, melainkan investasi langsung dalam bentuk:
1. Penguatan Infrastruktur Peternakan: Pembangunan kandang modern dengan teknologi tinggi untuk meningkatkan hasil produksi.
2. Transfer Teknologi: Adopsi sistem pengolahan pangan agar komoditas seperti susu dan daging ayam memiliki masa simpan yang lebih lama.
3. Efisiensi Distribusi: Membangun ekosistem logistik yang mampu menjangkau pelosok daerah agar makanan tetap segar saat diterima anak-anak sekolah.
Baca Juga: Pro-Kontra Anggaran Kursi Pijat Rp125 Juta: Gubernur Kaltim Sebut Demi Penunjang Kerja
Langkah strategis ini dipandang sebagai upaya percepatan agar program MBG tidak hanya sekadar memberikan makan gratis, tetapi juga menciptakan kemandirian pangan jangka panjang.
Dengan masuknya investasi asing, diharapkan kapasitas produksi nasional akan terkerek naik, sehingga di masa depan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara mandiri secara berkelanjutan.
Kadin menegaskan bahwa kemitraan ini akan tetap mengedepankan sinergi dengan pengusaha lokal dan koperasi peternak, sehingga dampak ekonomi dari investasi ini dapat dirasakan oleh seluruh lapisan pelaku usaha di sektor pangan. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna