Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ironi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Kisah Azis, Guru Honorer di Jakarta yang Terhimpit Gali Lubang Tutup Lubang

Ghina Nailal Husna • Kamis, 23 April 2026 | 14:18 WIB
Ilustrasi guru
Ilustrasi guru

 

RADAR KUDUS – Di balik gemerlap gedung pencakar langit Jakarta, terselip kisah pilu mengenai dedikasi yang dihargai dengan keterbatasan.

Abdul Azis (45), seorang pendidik yang telah mengabdikan diri hampir satu dekade di MI Nurul Islam 1, Penjaringan, Jakarta Utara, harus menghadapi kenyataan pahit: upah yang ia terima setiap bulan jauh dari kata layak untuk hidup di ibu kota.

Setiap harinya, Azis mengajar Pendidikan Agama Islam dan melestarikan budaya melalui kesenian hadroh.

Baca Juga: Krisis Transparansi K-Pop: THE BOYZ Putus Kontrak dengan ONE HUNDRED, Seret CEO ke Jalur Hukum

Namun, pengabdian selama sepuluh tahun tersebut hanya dihargai dengan gaji sebesar Rp 2 juta per bulan. Sebuah angka yang sangat kontras dengan biaya hidup di Jakarta yang terus merangkak naik.

"Kalau untuk uang segitu, ya Rp 2 juta, mengingat kebutuhan di Jakarta, itu jelas kurang. Sangat-sangat kurang," tutur Azis dengan nada getir saat ditemui pada Rabu (22/4/2026).

Keresahan Azis bukanlah tanpa alasan. Sebagai kepala keluarga, ia harus memutar otak agar dapur tetap mengepul.

Terlebih lagi, kini ia dikaruniai seorang buah hati yang baru berusia 7 bulan. Kebutuhan dasar bayi seperti susu formula dan popok sering kali menjadi beban finansial yang berat di tengah gaji yang pas-pasan.

Ujian hidup Azis tak berhenti pada kecilnya nominal gaji. Belum lama ini, motor yang merupakan satu-satunya sarana transportasi untuk bekerja hilang dicuri saat terparkir di depan rumahnya.

Kehilangan ini bak kiamat kecil bagi Azis, mengingat jangankan untuk mencicil kendaraan baru, untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan beras saja ia sudah kesulitan.

Ketiadaan kendaraan operasional semakin mempersulit ruang geraknya untuk mencari penghasilan tambahan. Kini, ia hanya bisa berserah sambil terus berupaya memenuhi kebutuhan harian yang tak jarang harus ditutup dengan cara meminjam.

 "Nasib para guru honorer di Indonesia itu kekurangan ekonomi. Bahkan mungkin untuk kebutuhan sehari-hari saja harus gali lubang tutup lubang," ujarnya menggambarkan siklus utang yang seolah tak berujung.

Baca Juga: Jembatan Budaya Pop: 5 Seconds of Summer Bidik Kolaborasi Strategis dengan Stray Kids dan ENHYPEN

Kisah Azis adalah satu dari ribuan potret buram kesejahteraan guru honorer di Indonesia. Fenomena "gali lubang tutup lubang" menjadi strategi bertahan hidup yang lazim namun menyakitkan bagi mereka yang memegang kunci masa depan generasi bangsa.

Melalui kisahnya, Azis secara tidak langsung menyuarakan harapan agar pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga menoleh pada nasib para pendidik di sekolah-sekolah swasta maupun madrasah yang masih hidup di bawah garis kelayakan.

Tanpa adanya intervensi kebijakan anggaran yang serius, profesi guru honorer akan terus menjadi simbol pengorbanan yang tidak terbalaskan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Guru Honorer Jakarta #Abdul Azis #Kesejahteraan Pendidik #Gali Lubang Tutup Lubang #gaji guru madrasah