RADAR KUDUS — Perum Bulog memastikan harga beras di pasaran tetap stabil meskipun harga plastik kemasan dan biaya logistik melonjak imbas ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Di tengah lonjakan harga plastik hingga sekitar 50–70 persen, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan tidak akan ada kenaikan harga beras bagi konsumen, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga inflasi pangan domestik.
Stok beras pemerintah yang mencapai 4,4–4,7 juta ton hingga awal April 2026, Bulog berada pada posisi yang kuat untuk menyerap, menyalurkan, dan menjaga harga beras medium dan premium sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Bulog mengungkapkan harga beras tetap terkendali berkat kebijakan penyerapan gabah/beras petani, operasi pasar, dan program Stabilisasi Program SPHP sendiri ditargetkan menyalurkan 1,5 juta ton beras sepanjang tahun 2026, dengan sasaran menjaga harga beras medium dan premium tetap pada level HET yang berlaku.
Baca Juga: Mentan Amran: Stok Beras Nasional Capai 4,6 Juta Ton, Cukup untuk 11 Bulan
“Sesuai arahan Bapak Presiden, tidak ada kenaikan harga pangan, termasuk harga beras,” tegas Rizal dalam konferensi pers di Kantor Pusat Perum Bulog, 13 April 2026.
Pemerintah juga meminta Bulog untuk menyesuaikan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dengan menekan biaya produksi seoptimal mungkin, sehingga kenaikan harga plastik tidak diteruskan ke konsumen.
Kenaikan harga plastik kemasan terjadi akibat ketergantungan Indonesia pada bahan baku petroleum-based seperti naphta yang berasal dari kawasan Timur Tengah.
Perang Israel–Iran dan ketegangan geopolitik global memicu kenaikan harga minyak dan turunannya, sehingga harga plastik industri melambung hingga puluhan persen.
Baca Juga: Stok Beras Capai 4,5 Juta Ton, Pemerintah Jamin Pasokan Aman di Tengah Ancaman El Nino
Menurut Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, kenaikan ini berdampak pada sektor pangan yang mengandalkan kemasan plastik, termasuk beras curah yang dikemas ulang menjadi beras kemasan.
Namun, Zulhas menegaskan bahwa pemerintah telah memastikan stok beras nasional aman dan harga beras tidak akan mengikuti tren kenaikan harga plastik.
Hingga awal April 2026, Bulog mencatat stok cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai sekitar 4,4 juta ton, dengan proyeksi naik menjadi 4,7 juta ton tidak lama kemudian.
Rizal juga menyampaikan bahwa Bulog memiliki target penyerapan gabah dan beras petani sebanyak 4 juta ton sepanjang 2026. Target itu, menurutnya, bisa tercapai berkat kolaborasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas), pemerintah daerah, TNI, Polri, dan lembaga petani.
Baca Juga: Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Plastik di Pasar Sampangan Semarang Tak Tega Naikkan Harga
Penyerapan maksimal di tingkat petani menjadi fondasi utama dalam menjaga harga minimal di tingkat petani sekaligus menekan volatilitas harga di pasar konsumen.
Bulog mengakui bahwa kenaikan harga plastik menjadi salah satu beban tambahan bagi industri beras kemasan. Namun, perusahaan telah mengambil langkah koordinatif dengan Kementerian Perindustrian agar produsen plastik kemasan dapat memberikan keringanan atau skema harga yang lebih terjangkau bagi pelaku usaha pangan.
Selain itu, Bulog memperkuat penyaluran beras nonkemasan melalui program SPHP, pasar murah, dan penyaluran langsung ke rumah sakit, sekolah, dan lembaga sosial.
Dengan semakin banyak saluran distribusi yang tidak bergantung pada kemasan plastik, tekanan biaya logistik dapat ditekan tanpa mengorbankan stabilitas harga beras.
Baca Juga: Mentan Amran: Stok Beras Nasional Capai 4,6 Juta Ton, Cukup untuk 11 Bulan
Pemerintah menetapkan HET beras medium dan premium sebagai “palang pengaman” harga di tingkat konsumen akhir. Di tahun 2026, HET beras medium berada di kisaran Rp13.500 per kg dan beras premium sekitar Rp14.900 per kg, dengan penekanan bahwa pedagang tidak diperbolehkan menjual di atas harga tersebut.
Bulog, bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan dan aparat penegak hukum, turut melakukan sidak dan pengawasan di pasar tradisional untuk memastikan pedagang tidak menaikkan harga secara sepihak.
Di segmen beras SPHP, harga bahkan dibatasi lebih ketat agar tetap terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Bulog dan pemerintah yakin tekanan inflasi dari sisi beras akan tetap terjaga sepanjang 2026. Bahkan pada periode Triwulan I–II 2026, beras diproyeksikan tidak menjadi sumber utama lonjakan harga, melainkan lebih menjadi penyangga stabilitas pangan nasional.
Fakta bahwa beras justru memberikan andil negatif terhadap inflasi beberapa waktu lalu menjadi bukti bahwa intervensi pemerintah melalui Bulog telah berjalan efektif.
Dengan kondisi ini, Bulog optimistis mampu mempertahankan narasi bahwa harga beras tetap stabil, meskipun tantangan global seperti krisis energi dan kenaikan harga plastik terus menghantui rantai pasok pangan.
Baca Juga: El Nino “Godzilla” 2026: Musim Kemarau Lebih Panjang, Ini Dampaknya
Komitmen Bulog untuk menjaga harga beras tak naik meskipun harga plastik kemasan melonjak menjadi sinyal penting bagi stabilitas ekonomi mikro rakyat.
Adanya dukungan stok beras yang melimpah, program SPHP yang terus diperluas, dan koordinasi kuat dengan pemerintah pusat dan daerah, harga beras domestik diharapkan tetap terjangkau dan tak terganggu oleh goncangan global.
Bulog tidak hanya berperan sebagai badan penyangga cadangan pangan, tetapi juga sebagai “penjaga inflasi” yang menahan tekanan harga di sektor pangan pokok.
Di tengah naiknya harga plastik dan tekanan global lainnya, kehadiran Bulog sebagai penyangga harga beras menjadi salah satu pilar utama ketahanan pangan nasional yang tetap berjalan stabil. (*)
Editor : Anita Fitriani