RADAR KUDUS – Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali menjadi sorotan publik setelah insiden kegagalan struktur ringan terjadi di fasilitas kebanggaan Indonesia tersebut.
Pada Senin siang, 6 April 2026, sekitar pukul 13.40 WIB, sebagian langit-langit atau plafon di area Gate 7 Terminal 3 dilaporkan runtuh akibat tekanan volume air hujan yang luar biasa.
Hujan deras yang disertai angin kencang mengguyur wilayah Tangerang dan Jakarta sejak tengah hari. Intensitas curah hujan yang tinggi diduga memicu kebocoran pada lapisan atap metal terminal.
Berdasarkan video yang beredar luas di media sosial, air hujan tampak tumpah secara masif dari langit-langit yang jebol, menggenangi lantai terminal, dan menciptakan situasi panik di antara para calon penumpang internasional.
Tumpahan air tersebut tidak hanya mengganggu area tunggu, tetapi juga berdampak pada beberapa gerai komersial yang berada di sepanjang koridor menuju Gate 8.
Meski situasi sempat mencekam, pihak PT Angkasa Pura II memastikan bahwa operasional penerbangan secara keseluruhan tetap berjalan normal dengan melakukan pengalihan alur penumpang di area terdampak.
Menanggapi insiden ini, pakar konstruksi dari Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Davy Sukamta, memberikan analisis teknisnya.
Menurutnya, masalah utama bukan terletak pada hancurnya struktur atap utama, melainkan pada sistem drainase dan ketahanan lapisan penutup.
"Bukan atap yang jebol, tetapi ada kebocoran signifikan. Air tertampung di atas plafon (ceiling) hingga bebannya melampaui kapasitas tumpu material, sehingga akhirnya jebol.
Lapisan atap itu berbahan metal, yang seharusnya dirancang kedap air sepenuhnya," ujar Davy.
Ia menekankan bahwa kejadian ini menjadi sinyal bagi pengelola bandara untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem sambungan atap dan pemeliharaan rutin, guna memastikan tidak ada celah bagi air untuk masuk dan terakumulasi di area plafon.
Insiden jebolnya plafon di objek vital nasional ini mencerminkan tantangan besar dalam pemenuhan Sustainable Development Goal (SDG) 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Sebagai gerbang utama internasional, Bandara Soekarno-Hatta seharusnya memiliki standar keamanan dan ketangguhan (resilience) tertinggi dalam menghadapi faktor eksternal seperti cuaca buruk yang kini kian ekstrem akibat perubahan iklim.
Kegagalan ini menunjukkan perlunya audit berkala terhadap kelayakan bangunan publik.
Baca Juga: Misteri "Drone" Laut di Perairan Lombok: Penemuan UUV Beraksara Asing Gegerkan Nelayan Utara
Infrastruktur yang aman, andal, dan berkelanjutan bukan hanya soal estetika megah, melainkan kemampuan sistem bangunan dalam menjamin keselamatan jiwa dan kelancaran layanan publik di bawah tekanan kondisi lingkungan yang berat.
Pihak Angkasa Pura II mengonfirmasi bahwa tim teknis langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pembersihan dan perbaikan darurat pada sore harinya. Area di sekitar Gate 7 segera disterilisasi guna menghindari risiko runtuhan susulan.
Pengelola bandara menyatakan komitmennya untuk menyelidiki titik lemah pada struktur atap terminal agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan, demi menjaga reputasi bandara sebagai representasi wajah Indonesia di mata dunia. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna