Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

93 Gempa Susulan Guncang Sulut–Malut, BMKG Ingatkan Risiko Belum Usai

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 2 April 2026 | 18:29 WIB
Ilustrasi pencatatan seismograf gempa.
Ilustrasi pencatatan seismograf gempa.

RADAR KUDUS - Gempa bumi besar yang mengguncang kawasan timur Indonesia pada Kamis pagi, 2 April 2026, tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memunculkan fase kritis yang kerap luput dari perhatian: rentetan gempa susulan yang berpotensi memperparah dampak.

Data terbaru dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga siang hari, sudah terjadi puluhan gempa susulan yang menandakan energi tektonik di wilayah tersebut belum sepenuhnya stabil.

Gempa Utama dan Awal Rangkaian Guncangan

Peristiwa bermula dari gempa berkekuatan magnitudo 7,6 yang terjadi pada pukul 05.48 WITA. Episentrum berada di kedalaman sekitar 33 kilometer, memicu getaran kuat yang dirasakan luas di wilayah Sulawesi Utara hingga Maluku Utara.

Guncangan ini langsung memicu kepanikan warga, terutama di wilayah pesisir dan perkotaan seperti Manado. Sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk fasilitas olahraga dan bangunan publik.

93 Gempa Susulan: Fase yang Lebih Berbahaya dari yang Diperkirakan

Hingga pukul 12.00 WITA di hari yang sama, BMKG mencatat sedikitnya 93 gempa susulan dengan kekuatan bervariasi, bahkan beberapa di antaranya mencapai magnitudo 5,5 hingga 6. Skala ini cukup kuat untuk kembali merusak bangunan yang sudah melemah akibat gempa utama.

Fenomena ini bukan hal yang tidak biasa dalam kajian seismologi. Dalam banyak kasus, gempa utama justru diikuti oleh aktivitas susulan yang bisa berlangsung selama berhari-hari hingga berminggu-minggu.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathoni, mengingatkan bahwa tren gempa susulan ini masih akan terus dipantau. Ia menyebutkan potensi aktivitas tersebut bisa berlangsung antara satu hingga dua minggu, tergantung pada dinamika pelepasan energi di zona patahan.

Korban Jiwa dan Dampak Awal

Di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil, laporan awal mencatat adanya korban jiwa. Seorang perempuan berusia 70 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan di kawasan Gedung KONI Manado.

Identitas korban dikonfirmasi oleh pihak Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan wilayah Sulawesi Utara. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa risiko terbesar sering kali muncul bukan saat gempa utama, melainkan saat struktur bangunan sudah melemah dan kemudian dihantam guncangan susulan.

Mengapa Gempa Susulan Perlu Diwaspadai Serius

Secara ilmiah, gempa susulan terjadi karena kerak bumi masih berusaha mencapai keseimbangan baru setelah pelepasan energi besar. Dalam konteks ini, wilayah Sulut–Malut berada dalam sistem tektonik yang kompleks, di mana pertemuan lempeng membuat potensi aktivitas seismik tinggi.

Yang sering diabaikan, gempa susulan memiliki karakter yang tidak bisa dianggap remeh:

Inilah yang menjadikan fase pascagempa sebagai periode paling krusial dalam mitigasi bencana.

Respons dan Kesiapsiagaan

Pemerintah melalui BNPB dan instansi terkait mulai melakukan pemantauan intensif serta koordinasi penanganan darurat. Warga diimbau untuk tetap berada di area aman dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan.

Langkah mitigasi sederhana namun penting meliputi:

Banyak pemberitaan berhenti pada angka magnitudo gempa utama. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ancaman terbesar justru datang dari fase lanjutan. Dalam konteks ini, 93 gempa susulan bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator bahwa wilayah tersebut masih berada dalam tekanan geologis aktif.

Dalam sejumlah kasus global, kerusakan terbesar bahkan terjadi saat gempa susulan, bukan gempa utama. Hal ini disebabkan struktur bangunan yang sudah melemah dan kesiapsiagaan masyarakat yang mulai menurun setelah guncangan pertama.

Peristiwa gempa di Sulawesi Utara dan Maluku Utara kali ini menegaskan satu hal: bencana tidak berhenti saat guncangan utama reda. Justru, fase setelahnya adalah periode paling menentukan bagi keselamatan.

Dengan puluhan gempa susulan yang masih terus terjadi, kewaspadaan menjadi kunci utama. Informasi yang akurat, disiplin terhadap imbauan resmi, dan kesadaran risiko menjadi fondasi penting dalam menghadapi situasi ini.

Editor : Mahendra Aditya
#gempa Sulawesi Utara 2026 #gempa Maluku Utara hari ini #gempa susulan BMKG #magnitudo 7.6 Indonesia #update gempa terkini