RADAR KUDUS – Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo yang berlokasi di Mojosongo, Solo, kini tengah berada di titik kritis.
Proyek infrastruktur hijau yang menelan investasi fantastis sebesar Rp330 miliar tersebut terancam berhenti beroperasi secara efektif setelah gagal mencapai target performa yang dijanjikan sejak awal pembangunannya.
Fasilitas ini sebelumnya merupakan "permata" dalam portofolio pembangunan infrastruktur di Solo.
Diresmikan pada Oktober 2023 oleh Gibran Rakabuming Raka yang kala itu menjabat sebagai Wali Kota Solo, PLTSa ini digadang-gadang sebagai solusi pamungkas masalah sampah perkotaan sekaligus pelopor energi terbarukan di Jawa Tengah.
Namun, setahun setelah seremoni peresmian, realita di lapangan justru menunjukkan pemandangan yang kontradiktif.
Pada masa perencanaan dan awal operasional, PLTSa Putri Cempo ditargetkan memiliki kapasitas pengolahan yang ambisius, yakni mencapai 450 ton sampah per hari.
Proyek ini bahkan sempat direncanakan untuk menjadi pusat pengolahan sampah regional yang mampu menerima kiriman limbah dari wilayah sekitar Solo Raya.
Namun, data operasional terbaru mengungkap fakta pahit. Fasilitas tersebut saat ini dilaporkan hanya mampu mengolah kurang dari 100 ton sampah per hari.
Angka ini hanya merepresentasikan sekitar 6 persen dari total volume sampah yang masuk ke TPA Putri Cempo.
Kesenjangan yang masif antara target dan realitas ini memicu kekhawatiran besar mengenai keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.
Meskipun secara administratif seluruh biaya pembangunan dan risiko operasional ditanggung oleh pihak investor (PT Solo Citra Metro Plasma Power), kegagalan sistemik ini tetap berdampak pada tata kelola lingkungan di Kota Solo.
Gunungan sampah di TPA Putri Cempo yang seharusnya menyusut berkat proses gasifikasi kini justru tetap menumpuk karena mesin tidak bekerja pada kapasitas optimal.
Beberapa pengamat menilai adanya kendala teknis dalam proses konversi sampah menjadi energi listrik yang belum sepenuhnya stabil.
"Mesin dan reaktor yang ada tampaknya belum mampu menangani karakteristik sampah lokal secara konsisten dalam skala besar," ujar seorang sumber yang memahami jalannya proyek tersebut.
Ketidakpastian mengenai kapan fasilitas ini bisa kembali berjalan sesuai kapasitas 100 persen menciptakan tanda tanya besar bagi masyarakat.
Baca Juga: Rudal Iran Balas Pidato Trump: Eskalasi Meningkat Meski Operasi Udara AS Intensif
Jika tidak segera dilakukan evaluasi teknis dan manajerial yang mendalam, investasi senilai Rp330 miliar tersebut terancam menjadi "monumen" infrastruktur yang tidak memberikan manfaat nyata bagi kelestarian lingkungan.
Kini, bola panas berada di tangan pengelola dan pemerintah daerah untuk memastikan bahwa proyek yang diresmikan dengan penuh harapan ini tidak berakhir sebagai kegagalan administratif.
Publik menanti langkah konkret agar PLTSa Putri Cempo benar-benar mampu mengubah sampah menjadi energi, bukan justru menambah beban masalah baru di tengah kota. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna