RADAR KUDUS - Kudus tak sekadar berduka—ia “berbicara” lewat ratusan karangan bunga.
Di kawasan GOR Djarum Jati, sekitar 600 papan ucapan duka memenuhi hampir setiap sudut ruang, menjadi simbol nyata luasnya pengaruh mendiang Michael Bambang Hartono.
Pemandangan ini bukan hanya soal jumlah, tetapi makna.
Deretan bunga yang memanjang dari halaman hingga lobi, bahkan meluber ke area belakang gedung, menggambarkan betapa besar jaringan relasi dan kontribusi yang ditinggalkan tokoh industri tersebut.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah karangan bunga dari komunitas “PBS Persaudaraan Bambang Sedunia”.
Kehadirannya memberi warna tersendiri di tengah dominasi ucapan formal dari institusi pemerintah dan korporasi besar.
Ucapan belasungkawa datang dari berbagai lapisan—mulai dari Pemerintah Kabupaten Kudus, unsur Forkopimda, hingga pelaku industri nasional.
Sejumlah nama besar seperti Djarum Group, Pura Group, Polytron, Bank Central Asia, hingga perusahaan rokok lokal turut menyampaikan penghormatan terakhir.
Namun yang menarik, komposisi pengirim karangan bunga di Kudus menunjukkan kedekatan almarhum dengan ekosistem lokal.
Berbeda dengan persemayaman sebelumnya di Jakarta yang didominasi tokoh nasional, di Kudus justru terlihat kuatnya ikatan dengan pemerintah daerah, pengusaha lokal, dan komunitas.
Hal ini diperkuat dengan kehadiran sejumlah tokoh penting, seperti Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, serta jajaran pejabat daerah lainnya.
Di sisi keluarga, tampak hadir nama-nama penting seperti Victor R. Hartono dan Armand W. Hartono yang turut menerima pelayat.
Lebih dari sekadar simbol duka, karangan bunga ini mencerminkan warisan sosial Michael Bambang Hartono.
Ia tidak hanya dikenal sebagai pengusaha sukses, tetapi juga figur yang berperan dalam pengembangan olahraga, kegiatan sosial, hingga penguatan ekonomi lokal.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana sosok berpengaruh dikenang—bukan hanya lewat angka kekayaan atau jabatan, melainkan melalui jejaring hubungan yang dibangun selama hidup.
Di tengah kesunyian prosesi duka, ratusan karangan bunga itu menjadi “suara kolektif” publik: sebuah penghormatan terakhir untuk figur yang meninggalkan jejak panjang di berbagai sektor di Indonesia.
Editor : Mahendra Aditya