RADAR KUDUS – Dampak ekonomi dari eskalasi konflik di Timur Tengah mulai merembet ke sektor pendidikan di Asia Selatan.
Pemerintah Bangladesh dan Pakistan secara resmi mengumumkan penutupan sementara sekolah serta perguruan tinggi sebagai bagian dari strategi darurat penghematan energi nasional.
Langkah drastis ini diambil guna mengantisipasi potensi kelangkaan listrik dan lonjakan harga bahan bakar yang dipicu oleh ketidakpastian jalur pasokan global.
Kebijakan ini mencerminkan betapa rentannya ketahanan energi di kawasan tersebut terhadap gejolak geopolitik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.
Di Bangladesh, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan telah mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh institusi pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta, untuk memajukan jadwal libur Idulfitri dari kalender akademik semula.
Langkah ini tidak hanya menyasar universitas, tetapi juga mencakup sekolah internasional berbahasa Inggris hingga pusat-pusat bimbingan belajar (bimbel).
Fokus utama dari kebijakan ini adalah pengurangan beban listrik secara masif pada fasilitas-fasilitas pendidikan yang meliputi:
- Ruang Kelas dan Laboratorium: Mematikan sistem pendingin udara dan pencahayaan intensif.
- Asrama Mahasiswa: Mengurangi konsumsi energi pada fasilitas tempat tinggal kolektif.
- Gedung Administrasi: Mengalihkan sebagian besar pekerjaan birokrasi ke sistem kerja dari rumah (work from home).
Otoritas Dhaka menilai bahwa dengan menonaktifkan aktivitas di institusi pendidikan, beban grid listrik nasional dapat dialihkan untuk menjaga keberlangsungan sektor industri manufaktur yang menjadi tulang punggung ekonomi negara.
Pakistan mengambil langkah serupa dengan menetapkan penutupan sekolah secara nasional yang dimulai efektif sejak 10 Maret 2026.
Berbeda dengan Bangladesh, fokus utama Pakistan adalah melakukan penghematan ganda, yakni pada sektor kelistrikan dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Pemerintah Pakistan menyoroti bahwa aktivitas sekolah harian mengonsumsi volume BBM yang sangat besar melalui logistik transportasi, antara lain:
1. Transportasi Siswa: Operasional ribuan bus sekolah dan van jemputan yang beroperasi setiap pagi dan sore.
2. Mobilitas Staf: Perjalanan harian guru, staf administrasi, serta orang tua murid yang menjemput anak-anak mereka.
3. Penghematan Grid: Mengurangi tekanan pada pembangkit listrik yang saat ini menghadapi kendala pasokan gas alam cair (LNG) akibat gangguan distribusi di jalur pelayaran internasional.
"Kami harus memprioritaskan ketersediaan energi untuk rumah tangga dan layanan medis darurat.
Penutupan sementara sekolah adalah langkah pahit namun diperlukan untuk menghindari pemadaman total (blackout) di seluruh negeri," ujar juru bicara pemerintah Pakistan.
Kedua negara ini sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk. Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan jalur maritim strategis, telah menyebabkan premi asuransi pengiriman meroket dan mengganggu jadwal kedatangan tanker bahan bakar.
Bagi Bangladesh dan Pakistan, krisis ini bukan sekadar masalah politik, melainkan ancaman eksistensial terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri.
Penghematan energi melalui sektor pendidikan dipandang sebagai cara paling efektif untuk mengurangi konsumsi tanpa langsung melumpuhkan aktivitas ekonomi produktif seperti pelabuhan dan pabrik.
Meskipun bertujuan menyelamatkan energi, kebijakan ini membawa tantangan baru bagi sektor pendidikan.
Baik Dhaka maupun Islamabad kini tengah berupaya mengaktifkan kembali platform pembelajaran daring (online learning) guna memastikan siswa tidak tertinggal materi pelajaran, meskipun kendala akses internet dan ketersediaan perangkat di wilayah pedesaan masih menjadi hambatan besar.
Dunia internasional kini memantau dengan cermat apakah langkah penghematan ini akan cukup untuk menjaga stabilitas domestik kedua negara tersebut, atau justru menjadi sinyal awal dari krisis ekonomi yang lebih luas di kawasan Asia Selatan. (*)
Editor : Zainal Abidin RK