Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Perkuat Aliansi Anti-Barat: Kim Jong Un Nyatakan Dukungan Penuh atas Kepemimpinan Mojtaba Khamenei

Ghina Nailal Husna • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:57 WIB

 Kim Jong Un Nyatakan Dukungan Penuh atas Kepemimpinan Mojtaba Khamenei
Kim Jong Un Nyatakan Dukungan Penuh atas Kepemimpinan Mojtaba Khamenei

RADAR KUDUS– Pemerintah Korea Utara secara resmi menyampaikan dukungan diplomatik mereka terhadap suksesi kepemimpinan di Iran.

Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, memberikan restu atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei, yang wafat dalam serangan militer gabungan baru-baru ini.

Langkah ini dipandang oleh para analis geopolitik sebagai upaya Pyongyang untuk mempererat poros aliansi strategis dalam menghadapi tekanan kolektif dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Melalui kantor berita resmi pemerintah, Korean Central News Agency (KCNA), Pyongyang merilis pernyataan yang mengecam keras eskalasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran.

Korea Utara menilai serangan tersebut bukan hanya pelanggaran berat terhadap hukum internasional, tetapi juga tindakan provokasi yang merusak tatanan perdamaian dunia.

"Agresi militer yang ditargetkan kepada kedaulatan Iran adalah bentuk terorisme negara yang tidak dapat ditoleransi.

Dunia harus bersatu mengutuk tindakan yang menghancurkan stabilitas regional ini," tulis pernyataan resmi KCNA.

Pemerintah Korea Utara juga menegaskan bahwa mereka menghormati sepenuhnya keputusan kedaulatan rakyat dan pemerintahan Iran dalam memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru di masa transisi yang krusial ini.

Di saat yang bersamaan dengan penyampaian dukungan diplomatik tersebut, situasi di Semenanjung Korea sendiri tetap memanas.

Kim Jong Un dilaporkan turun langsung ke lapangan untuk mengawasi uji coba rudal jelajah strategis dari kapal perang terbaru Korea Utara, Choe Hyon.

Uji coba ini dilakukan untuk memverifikasi kemampuan ofensif armada laut terbaru mereka dalam menghadapi potensi ancaman dari Korea Selatan dan militer AS.

Dalam arahannya, Kim Jong Un menekankan beberapa poin krusial:

1. Penguatan Penangkal Nuklir: Pyongyang akan terus meningkatkan kapasitas nuklirnya sebagai instrumen pencegah (deterrent) agar pihak lawan tidak berani melakukan spekulasi militer.

2. Kesiapan Tempur: Kapal perang Choe Hyon diproyeksikan menjadi tulang punggung kekuatan laut yang mampu meluncurkan serangan jarak jauh dengan presisi tinggi.

3. Respons Terhadap Latihan Militer AS-Korsel: Uji coba ini disebut sebagai jawaban langsung atas aktivitas militer di perairan sekitar semenanjung yang dianggap mengancam keamanan nasional Korea Utara.

Meski menunjukkan sikap militan melalui uji coba persenjataan, Kim Jong Un memberikan sinyal diplomasi yang menarik.

Ia menyatakan bahwa Pyongyang tidak sepenuhnya menutup pintu negosiasi dengan Washington. Namun, ia mengajukan syarat mutlak yang sulit dikompromikan oleh Barat.

Korea Utara menegaskan bahwa dialog hanya mungkin terjadi jika Amerika Serikat bersedia mengakui status Korea Utara sebagai negara nuklir sah.

Dengan posisi tawar ini, Pyongyang ingin memastikan bahwa pembicaraan mendatang bukan lagi tentang denuklirisasi, melainkan tentang pembatasan senjata atau normalisasi hubungan antarnegara nuklir.

Dukungan terhadap Mojtaba Khamenei dan uji coba rudal strategis ini seolah mengirimkan pesan tegas ke dunia internasional: bahwa di tengah ketidakpastian global, aliansi antara negara-negara yang menentang hegemoni Barat justru semakin solid. (*)

Editor : Ali Mustofa
#Aliansi #Kim Jong Un #dukungan