Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Serangan AS–Israel ke Iran Tewaskan Ribuan Warga, Infrastruktur Sipil Hancur

Ali Mustofa • Rabu, 11 Maret 2026 | 15:57 WIB

Orang-orang berduka di sebuah pemakaman yang diadakan untuk korban tewas akibat serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran di kuburan Behesht-e Zahra di Teheran, Iran, pada 9 Maret 2026.
Orang-orang berduka di sebuah pemakaman yang diadakan untuk korban tewas akibat serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran di kuburan Behesht-e Zahra di Teheran, Iran, pada 9 Maret 2026.

RADAR KUDUS – Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu dilaporkan menimbulkan korban dan kerusakan besar.

Pemerintah Iran menyebut lebih dari 1.300 warga sipil meninggal dunia, sementara ribuan fasilitas sipil mengalami kerusakan.

Pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar sekaligus Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, dalam keterangannya kepada media pada Selasa (10/3).

Baca Juga: Ribuan Unit Layanan MBG di Jawa Dihentikan Sementara, Ini Penyebabnya

Ia mengatakan bahwa serangan tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan berbagai fasilitas penting milik masyarakat.

Menurut data yang disampaikan Iran, total 9.669 fasilitas sipil terdampak serangan tersebut.

Rinciannya meliputi 7.943 rumah warga, 1.617 pusat perdagangan dan layanan publik, 32 fasilitas kesehatan serta farmasi, 65 sekolah dan lembaga pendidikan, serta 13 gedung milik Bulan Sabit Merah.

Selain itu, sejumlah infrastruktur energi juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Iravani menuduh serangan yang dilakukan AS dan Israel sengaja menargetkan warga sipil serta infrastruktur penting.

Ia menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

“Mereka secara sengaja menyerang wilayah sipil di berbagai daerah di negara kami tanpa memperhatikan hukum internasional,” kata Iravani.

Baca Juga: Jarang Disadari, Laut dan Ikan Menyimpan Pelajaran Besar bagi Manusia

Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah kawasan permukiman padat penduduk turut menjadi sasaran serangan.

Jumlah korban maupun kerusakan diperkirakan masih terus bertambah seiring berlanjutnya operasi militer.

Salah satu serangan yang disorot adalah pemboman fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran dan beberapa kota lainnya pada Sabtu (7/3) malam.

Ledakan tersebut disebut melepaskan polutan berbahaya ke udara yang berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius bagi masyarakat.

Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran melaporkan bahwa polusi udara yang ditimbulkan dari insiden tersebut meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak, perempuan, lansia, serta warga yang memiliki kondisi medis tertentu.

Baca Juga: Ternyata Ikan Predator Punya Peran Penting Menjaga Keseimbangan Alam

Selain itu, Iran juga menyoroti serangan terhadap Bandar Udara Mehrabad di Teheran pada Sabtu pagi yang menyebabkan sejumlah pesawat sipil serta fasilitas bandara mengalami kerusakan.

Fasilitas desalinasi air di Pulau Qeshm, Provinsi Hormozgan, juga dilaporkan terkena serangan sehingga mengganggu pasokan air bersih bagi sekitar 30 desa.

Pada Minggu (8/3) dini hari, Iran juga menuduh Israel melakukan serangan terhadap Hotel Ramada di Beirut, Lebanon.

Insiden tersebut dilaporkan menewaskan empat diplomat Iran yang berada di lokasi.

Iravani menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Ia menilai pembunuhan terhadap diplomat di wilayah negara lain merupakan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Dalam pernyataannya, Iravani mendesak komunitas internasional agar segera mengambil langkah untuk menghentikan konflik yang terus meluas tersebut.

“Kami akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi rakyat, wilayah, dan kedaulatan kami,” tegasnya.

Baca Juga: Banyak Orang Melihat Ikan Setiap Hari, Tapi Jarang Menyadari Keajaiban Ini

Sementara itu, penasihat kebijakan luar negeri di kantor pemimpin tertinggi Iran, Kamal Kharazi, menyatakan bahwa saat ini peluang diplomasi dinilai semakin kecil.

Dalam wawancara dengan CNN pada Senin malam (9/3), ia mengatakan Iran bersiap menghadapi konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat.

Menurutnya, pengalaman dalam beberapa putaran perundingan sebelumnya membuat Iran tidak lagi percaya pada komitmen Washington.

“Saya tidak melihat adanya ruang diplomasi saat ini. Dalam dua putaran perundingan sebelumnya, ketika kami sedang bernegosiasi, justru terjadi serangan,” ujar Kharazi.

Ia menambahkan bahwa tekanan ekonomi akibat konflik tersebut bisa mendorong negara-negara lain untuk ikut campur dan menekan pihak-pihak yang terlibat agar menghentikan perang.

Kharazi juga menyarankan negara-negara di kawasan Teluk untuk mendorong Washington agar mengakhiri konflik tersebut, mengingat dampak ekonomi yang semakin meluas, termasuk kenaikan inflasi dan gangguan pasokan energi.

Di tengah meningkatnya ketegangan regional, Iran menegaskan bahwa kepemimpinan politik dan militernya tetap solid.

Menurut Kharazi, kepemimpinan Iran akan terus memimpin upaya pertahanan negara sebagaimana dilakukan sebelumnya.

Eskalasi konflik meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran berupa peluncuran drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer AS.

Iran juga mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi dunia yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari serta sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global, sebagian besar menuju pasar Asia.

Editor : Ali Mustofa
#iran #serangan militer #Israel #amerika serikat #perundingan