RADAR KUDUS – Hiruk-pikuk Pasar Senen, Jakarta Pusat, kembali mencapai puncaknya. Di tengah gempuran tren thrifting yang tak kunjung padam, ada satu sudut yang justru semakin disesaki pengunjung: kios penjualan pakaian dalam bekas impor.
Mulai dari bra, celana dalam, hingga boxer, semuanya laku keras diserbu pembeli yang rela berdesakan demi mendapatkan barang bermerek dengan harga kaki lima.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Faktor ekonomi yang kian menantang membuat masyarakat memutar otak untuk tetap tampil modis dan nyaman tanpa harus menguras kantong.
Daya tarik utama dari sentra pakaian bekas ini adalah harganya yang sangat kontras jika dibandingkan dengan harga toko retail.
Bayangkan saja, produk yang biasanya terpajang di mal-mal mewah kini bisa dibawa pulang hanya dengan merogoh kocek Rp35.000.
"Ya karena murah, di mana lagi bisa dapatin bra merek terkenal tapi cuma bayar Rp35.000 saja," ujar Desi, salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi pada Kamis (5/3/2026).
Bagi pembeli seperti Desi, nominal tersebut adalah angka yang sangat masuk akal untuk mendapatkan kualitas internasional.
Penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa merek-merek kelas dunia seperti Victoria’s Secret, Valentine’s Secret, hingga Lycra terselip di antara tumpukan pakaian dalam tersebut. J
ika dibeli dalam kondisi baru, produk-produk ini biasanya dibanderol di atas Rp100.000 hingga Rp500.000 per potong.
Selain faktor harga, keunikan desain menjadi alasan kedua mengapa kios ini tidak pernah sepi. Barang-barang ini mayoritas didatangkan langsung dari Korea Selatan dan Jepang, negara yang dikenal memiliki standar estetika dan kualitas bahan yang tinggi.
Desi menambahkan bahwa desain yang ditawarkan di Pasar Senen sangat sulit ditemukan di pasar domestik.
"Karena kan di sini impor dari Korea Selatan ya, desainnya unik gitu. Mana ada yang jual barunya di sini. Kalaupun ada, pasti mahal, makanya nyari di sini," lanjutnya.
Para pedagang, termasuk Mamang, salah satu pemilik kios, mengonfirmasi bahwa pasokan barang mereka memang menyasar pasar Asia Timur.
Meski berstatus barang bekas pakai (pre-loved), mereka mengklaim produk tersebut masih memiliki keunggulan dari sisi durabilitas dan detail jahitan.
"Kalau yang terkenal, kami jual Rp35.000 per buah. Itu bekas ya. Kalau baru pasti sudah di atas seratus ribu," jelas Mamang sambil merapikan barang dagangannya.
Meskipun para pedagang tidak selalu menjelaskan detail merek secara terang-terangan kepada setiap pembeli, namun mata jeli para pemburu thrift sudah cukup untuk mengenali label-label ternama.
Kehadiran pengunjung yang membludak ini menjadi sinyal bahwa pasar pakaian dalam bekas memiliki segmentasi yang kuat di ibu kota.
Pakaian dalam dari merek-merek kelas dunia kini bukan lagi monopoli mereka yang berbelanja di butik eksklusif.
Di lorong-lorong sempit Pasar Senen, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki "kemewahan" tersebut, meski dalam balutan barang bekas pakai yang butuh kecermatan ekstra dalam memilih. (*)
Editor : Mahendra Aditya