RADAR KUDUS - Nilai tukar rupiah mengalami penurunan yang signifikan, hampir mencapai angka Rp17.000 per dolar AS hari ini 9 Maret 2026, disebabkan oleh ketegangan geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dan lemahnya aliran modal asing.
Keadaan ini menimbulkan banyak kekhawatiran di kalangan pelaku pasar serta masyarakat luas, karena berdampak langsung pada daya beli dan stabilitas ekonomi nasional, meskipun para analis seperti yang berasal dari HSBC telah memberi peringatan tentang kemungkinan ini sejak awal tahun.
Penurunan ini merupakan kelanjutan dari tren yang dimulai pada 2025, di mana rupiah telah mencapai angka Rp17.006 pada bulan April 2025 lalu, menetapkan rekor terendah yang pernah ada.
Penurunan nilai rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS terutama dipicu oleh faktor luar seperti ketegangan geopolitik di seluruh dunia, termasuk peningkatan konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi dan menambah ketidakstabilan di pasar mata uang negara berkembang.
Selain itu, kebijakan Federal Reserve AS yang mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang tahun 2025-2026 membuat para investor beralih ke aset dolar, sedangkan aliran investasi asing ke Indonesia tetap lambat akibat ketidakseimbangan neraca pembayaran.
Di tingkat domestik, meskipun kinerja ekspor cukup baik, hal ini tidak cukup untuk mengatasi tekanan yang ada, karena kekurangan dolar dan ekspektasi negatif dari investor semakin memperburuk keadaan, seperti yang diungkapkan oleh Prasasti Center for Policy Studies.
Ekonom dari HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, memperkirakan angka Rp17.000 sebagai skenario yang moderat pada akhir tahun 2026 jika tidak ada perbaikan yang signifikan dalam aliran modal asing.
Penurunan rupiah ke kisaran Rp16. 921-Rp17.000 per dolar AS di awal bulan Maret 2026 langsung berdampak pada impor barang-barang pokok, menyebabkan lonjakan harga bahan baku seperti minyak dan pangan, yang pada gilirannya menekan inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Perusahaan swasta dan BUMN yang bergantung pada utang luar negeri mengalami beban bunga yang lebih tinggi, sementara IHSG justru menunjukkan kenaikan yang anomali karena didominasi oleh investor lokal, menciptakan paradoks antara pasar saham dan nilai tukar.
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berada di bawah tekanan untuk melakukan intervensi dalam pasar valuta asing dengan cara yang lebih agresif, meskipun BI menargetkan adanya pemulihan dalam 12 bulan ke depan jika nilai dolar AS melemah secara global.
Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar spot dan NDF untuk menjaga stabilitas, sementara pemerintah dorong stimulus untuk ekspor dan reformasi struktural dalam upaya menarik investasi asing.
Beberapa bank mulai menawarkan dolar di atas Rp17.000, yang menunjukkan bahwa likuiditas semakin ketat, tetapi terdapat harapan dari proyeksi BI bahwa rupiah dapat pulih jika tekanan dari luar berkurang.
Meskipun demikian, tanpa adanya perbaikan dalam arus modal dan stabilitas geopolitik, rupiah berisiko tetap lemah sepanjang tahun 2026, yang memerlukan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih kuat untuk menghindari peningkatan depresiasi yang lebih dalam.
Editor : Mahendra Aditya