RADAR KUDUS – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan meminta para diplomatnya yang bertugas di Arab Saudi untuk meninggalkan negara tersebut.
Informasi ini disampaikan oleh harian New York Times dalam laporannya.
Mengutip sejumlah sumber, laporan yang diterbitkan pada Sabtu itu menyebutkan bahwa kebijakan tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran Departemen Luar Negeri AS terhadap situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Longsor Gunungan Sampah di Bantargebang Tewaskan 4 Orang, Tim SAR Masih Cari 5 Korban Hilang
Disebutkan pula bahwa sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, untuk pertama kalinya Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan perintah “mandatory departure” bagi para diplomatnya di Arab Saudi.
Status ini merupakan tingkat evakuasi paling tinggi yang biasanya diterapkan ketika kondisi keamanan dinilai sangat berisiko.
Perintah tersebut tidak hanya berlaku bagi staf diplomatik yang bertugas di ibu kota Riyadh, tetapi juga mencakup pegawai pemerintah AS yang berada di Jeddah dan Dhahran, dua kota tempat konsulat Amerika Serikat beroperasi.
Sebelumnya, sejumlah diplomat AS sempat mengkritik pemerintahan Presiden Donald Trump karena dianggap lambat mempersiapkan rencana evakuasi bagi warga Amerika yang berada di kawasan Timur Tengah.
Penundaan tersebut terjadi meskipun dalam beberapa pekan terakhir Amerika Serikat telah menambah jumlah pasukan militernya di wilayah tersebut, sementara pemerintah AS juga secara terbuka mengeluarkan ancaman perang terhadap Iran.
Ketegangan semakin meningkat setelah pada 28 Februari Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Baca Juga: Update Harga Emas Antam Senin Pagi, Turun ke Rp3,004 Juta per Gram
Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan serta menyebabkan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Di tengah meningkatnya konflik tersebut, Iran dilaporkan telah memasukkan aset ekonomi Amerika Serikat ke dalam daftar target serangan.
Informasi ini disampaikan oleh kantor berita Fars News Agency pada Minggu (8/3).
Mengutip seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, laporan itu menyebutkan bahwa Teheran telah mengubah strategi penargetan yang sebelumnya hanya difokuskan pada sasaran militer milik AS dan Israel.
Kini, daftar target tersebut diperluas dengan memasukkan kepentingan ekonomi serta aset Amerika Serikat di berbagai wilayah.
Baca Juga: Jangan Tunggu Haus! Ini Alasan Tubuh Wajib Dapat Air Cukup Setiap Hari
Pejabat tersebut menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah muncul berbagai pernyataan dari pejabat Amerika Serikat dan Israel yang dinilai sebagai ancaman langsung terhadap rakyat Iran.
Sementara itu, pada Minggu malam, Amerika Serikat bersama Israel kembali melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas penyimpanan minyak Iran yang berada di Teheran dan wilayah sekitarnya.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan berat pada sejumlah fasilitas energi, termasuk Depo Minyak Shahran.
Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat sejak dimulainya serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari.
Menurut otoritas Iran, serangan tersebut menyebabkan lebih dari 1.200 orang tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, serta melukai lebih dari 10.000 orang lainnya.
Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan menggunakan rudal dan drone yang diarahkan ke wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Editor : Ali Mustofa