RADAR KUDUS - Menjelang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) setiap tahun, aktivitas ekonomi masyarakat biasanya meningkat secara signifikan.
Transaksi belanja daring, pembayaran digital, hingga mobilitas keuangan mengalami lonjakan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Namun di balik meningkatnya aktivitas tersebut, ancaman lain juga ikut naik: penipuan digital.
Sejumlah pakar keamanan siber memperingatkan bahwa momen pencairan THR sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan berbagai modus penipuan.
Masyarakat pun diminta lebih berhati-hati saat menerima pesan digital, tautan, maupun file yang dikirim melalui ponsel atau aplikasi perpesanan.
Data dari perusahaan teknologi identitas digital VIDA menunjukkan bahwa kasus penipuan digital cenderung meningkat menjelang musim pencairan THR.
Fenomena ini terjadi karena meningkatnya transaksi finansial serta tingginya aktivitas masyarakat di dunia digital menjelang Lebaran.
Lonjakan Penipuan Digital Saat Musim THR
Menurut Founder dan Group CEO VIDA Niki Luhur, pelaku kejahatan siber selalu beradaptasi mengikuti perubahan teknologi maupun kebiasaan pengguna internet.
Setiap kali sistem keamanan diperkuat, para pelaku biasanya mencari celah baru untuk mengecoh korban.
Ia menjelaskan bahwa penipuan digital tidak pernah benar-benar berhenti. Metodenya terus berkembang, mulai dari teknik sederhana hingga metode yang jauh lebih kompleks.
Momentum tertentu seperti pencairan THR, musim belanja Lebaran, hingga promo Ramadan sering dimanfaatkan pelaku untuk menjebak korban yang sedang aktif melakukan transaksi.
“Penipuan selalu berkembang. Saat sistem keamanan diperkuat, pelaku akan mencoba metode baru dan kembali dengan teknik yang lebih kompleks,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Fenomena ini juga sejalan dengan laporan sejumlah perusahaan keamanan siber global seperti Kaspersky dan Trend Micro yang menyebutkan bahwa penipuan berbasis phishing dan malware cenderung meningkat pada periode libur besar.
Baca Juga: THR ASN Ngawi Rp48 Miliar Siap Disalurkan: Pemkab Menunggu Aturan Teknis PP Nomor 9 Tahun 2026
Dua Modus Penipuan yang Paling Sering Terjadi
Para pakar keamanan digital mengidentifikasi beberapa metode yang paling sering digunakan oleh pelaku penipuan digital menjelang pencairan THR. Dua modus yang paling dominan adalah phishing dan malware berbasis aplikasi palsu.
1. Phishing dan Smishing
Phishing merupakan metode penipuan dengan cara memancing korban agar memberikan data pribadi secara sukarela melalui tautan tertentu.
Sementara smishing merupakan bentuk phishing yang dilakukan melalui pesan singkat atau SMS.
Dalam praktiknya, pelaku biasanya mengirim pesan yang terlihat meyakinkan, misalnya:
-
pemberitahuan paket dari jasa pengiriman
-
notifikasi transaksi bank
-
promo Ramadan atau diskon besar
-
undangan digital atau dokumen penting
Pesan tersebut biasanya berisi tautan yang meminta korban memasukkan informasi pribadi, seperti:
-
username dan password
-
nomor kartu identitas
-
data rekening bank
-
kode OTP (One Time Password)
Jika korban memasukkan data tersebut, pelaku dapat dengan mudah mengambil alih akun korban, termasuk akun perbankan atau dompet digital.
2. Malware Melalui File APK
Selain phishing, modus lain yang semakin sering ditemukan adalah penyebaran malware melalui aplikasi palsu.
Dalam skema ini, pelaku mengirim file yang tampak seperti dokumen biasa, misalnya:
-
file status pengiriman paket
-
undangan pernikahan digital
-
dokumen pembayaran
-
aplikasi promo Ramadan
File tersebut biasanya berbentuk APK, yaitu format instalasi aplikasi Android.
Jika korban mengunduh dan menginstalnya, aplikasi tersebut dapat secara otomatis memperoleh akses ke berbagai fungsi di dalam perangkat.
Dalam beberapa kasus, malware tersebut mampu:
-
membaca pesan SMS
-
mencatat aktivitas layar
-
mengambil data login
-
mengakses aplikasi perbankan
Hal ini memungkinkan pelaku memantau aktivitas korban dari jarak jauh dan mencuri informasi penting tanpa disadari.
Teknik Fake BTS yang Pernah Ramai Digunakan
Beberapa waktu lalu, pemerintah juga sempat menemukan teknik penipuan baru yang dikenal dengan istilah fake BTS.
Teknik ini memungkinkan pelaku mengirim pesan SMS massal yang tampak seolah berasal dari lembaga resmi seperti bank atau operator telekomunikasi.
Karena pesan tersebut terlihat resmi, banyak pengguna yang akhirnya mempercayai informasi tersebut dan mengklik tautan yang disertakan.
Metode ini cukup berbahaya karena pesan yang diterima tidak terlihat mencurigakan seperti SMS spam biasa.
Mengapa Momen THR Rentan Penipuan?
Para analis keamanan digital menyebut ada beberapa alasan mengapa periode pencairan THR menjadi waktu yang rawan penipuan.
Pertama, masyarakat biasanya lebih aktif melakukan transaksi digital menjelang Lebaran.
Mulai dari belanja daring, transfer uang, hingga pembayaran berbagai kebutuhan dilakukan melalui perangkat digital.
Kedua, peningkatan aktivitas transaksi membuat masyarakat cenderung lebih cepat merespons pesan digital, terutama yang berkaitan dengan transaksi atau pengiriman barang.
Kondisi ini sering dimanfaatkan pelaku untuk memancing korban agar tidak sempat memverifikasi informasi yang diterima.
Ketiga, sebagian masyarakat masih memiliki literasi digital yang terbatas, sehingga tidak selalu mampu membedakan pesan resmi dengan pesan palsu.
Ancaman terhadap Data dan Identitas Digital
Di era digital saat ini, perangkat seperti smartphone, tablet, dan laptop tidak hanya digunakan untuk komunikasi.
Perangkat tersebut juga menyimpan berbagai informasi penting seperti:
-
data perbankan
-
identitas digital
-
akses aplikasi keuangan
-
akun media sosial
-
dokumen pribadi
Jika perangkat tersebut berhasil diretas melalui malware atau phishing, pelaku dapat mengakses berbagai layanan digital yang terhubung dengan akun korban.
Karena itu, keamanan perangkat kini menjadi salah satu aspek penting dalam perlindungan identitas digital.
Pentingnya Perlindungan Berlapis
Para pakar keamanan siber menilai bahwa penggunaan password saja tidak lagi cukup untuk melindungi akun digital.
Sistem keamanan modern kini mengandalkan lapisan perlindungan tambahan, seperti:
-
autentikasi dua faktor (2FA)
-
verifikasi biometrik
-
notifikasi aktivitas akun
-
sistem deteksi aktivitas mencurigakan
Langkah-langkah tersebut dapat membantu mencegah akses ilegal meskipun password pengguna berhasil diketahui oleh pihak lain.
Tips Menghindari Penipuan Digital Saat THR Cair
Untuk mengurangi risiko menjadi korban penipuan digital, masyarakat disarankan menerapkan beberapa langkah sederhana.
Beberapa di antaranya adalah:
-
Jangan sembarangan mengklik tautan yang dikirim melalui SMS atau pesan instan.
-
Periksa alamat situs sebelum memasukkan data pribadi.
-
Hindari mengunduh file APK dari sumber tidak resmi.
-
Aktifkan autentikasi dua faktor pada akun penting.
-
Gunakan aplikasi resmi dari toko aplikasi resmi seperti Play Store atau App Store.
Selain itu, pengguna juga disarankan untuk tidak membagikan kode OTP kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas bank.
Kampanye Kesadaran Digital
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penipuan digital, sejumlah perusahaan teknologi juga meluncurkan kampanye edukasi publik.
Salah satunya adalah gerakan #JanganAsalKlik, yang mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati saat menerima pesan digital.
Melalui kampanye ini, masyarakat diingatkan agar selalu memverifikasi informasi sebelum mengklik tautan atau mengunduh aplikasi.
Langkah sederhana tersebut dapat menjadi pertahanan pertama untuk mencegah kejahatan siber.
Dampak Penipuan Digital bagi Korban
Penipuan digital tidak hanya menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga dapat berdampak pada aspek lain seperti keamanan data pribadi.
Beberapa korban bahkan mengalami:
-
kehilangan saldo rekening
-
pencurian identitas digital
-
pembobolan akun media sosial
-
penyalahgunaan data pribadi
Proses pemulihan setelah menjadi korban penipuan digital juga tidak selalu mudah karena pelaku sering menggunakan identitas palsu dan jaringan internasional.
Menjelang pencairan THR Lebaran 2026, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan digital.
Modus yang paling sering digunakan pelaku adalah phishing melalui tautan palsu serta malware melalui file APK berbahaya.
Peningkatan aktivitas transaksi menjelang Lebaran membuat risiko penipuan digital juga meningkat.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati saat menerima pesan digital, tidak sembarangan mengklik tautan, serta selalu menjaga keamanan perangkat dan identitas digital mereka.
Dengan kewaspadaan yang lebih tinggi, risiko menjadi korban kejahatan siber dapat diminimalkan.
Editor : Mahendra Aditya