Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tragedi Sikka: Siswi SMP Tewas Dibacok Kakak Kelas, Ayah dan Kakek Pelaku Diduga Ikut Sembunyikan Jasad

Ghina Nailal Husna • Minggu, 8 Maret 2026 | 20:58 WIB

Sebuah tragedi memilukan di Sikka
Sebuah tragedi memilukan di Sikka

RADAR KUDUS – Sebuah peristiwa kelam mengguncang Desa Rubit, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

STN (14), seorang siswi SMP Mater Boni Consili (MBC) Ohe yang dikenal sebagai remaja yang baik, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan pada 23 Februari 2026.

Penemuan jasad korban mengungkap tabir kejahatan luar biasa yang melibatkan tiga generasi dalam satu keluarga.

Pihak kepolisian telah bergerak cepat dan menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah FRG (16) yang merupakan kakak kelas korban, ayah FRG berinisial SG (44), serta kakek pelaku berinisial VS (57).

Keterlibatan ayah dan kakek pelaku dalam upaya menyembunyikan kejahatan ini menambah luka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar.

Peristiwa tragis ini bermula saat STN mendatangi rumah FRG dengan niat sederhana: mengambil kembali gitarnya yang dipinjam oleh pelaku.

Saat korban tiba, kondisi rumah dalam keadaan sepi. Anggota keluarga FRG lainnya diketahui sedang menghadiri acara adat di kampung tetangga, menyisakan FRG seorang diri di rumah tersebut.

Awalnya, pertemuan berlangsung normal. Pelaku dan korban bahkan sempat duduk bersama dan menikmati buah durian. Namun, suasana hangat itu berubah drastis saat korban berpamitan untuk pulang.

Melihat kondisi lingkungan yang sepi dan jauh dari pemukiman tetangga, niat jahat FRG muncul. Ia mulai memaksa korban untuk melakukan hubungan badan.

Meski STN melakukan perlawanan sekuat tenaga, pelaku tetap melancarkan aksi bejatnya.

Usai melakukan tindakan rudapaksa tersebut, pelaku sempat mengancam korban agar tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun.

Namun, STN yang menahan rasa sakit dan trauma tetap berupaya mencari pertolongan dengan mencoba menghubungi keluarganya melalui telepon seluler agar segera dijemput.

Ketakutan FRG memuncak saat melihat korban bersikeras menghubungi keluarga. Khawatir perbuatannya terbongkar dan berujung pada hukum, pelaku mencoba merampas ponsel korban.

Pergulatan pun terjadi karena STN tetap mempertahankan ponselnya.

Dalam kondisi kalap dan gelap mata, FRG mengambil sebilah parang. Ia secara brutal membacok kakak kelasnya sendiri hingga korban menghembuskan napas terakhir di lokasi kejadian.

Tragedi tidak berhenti di situ. Bukannya melaporkan kejadian tersebut, ayah pelaku (SG) dan kakek pelaku (VS) yang kemudian mengetahui kejadian itu diduga kuat justru bekerja sama untuk menutupi jejak kejahatan FRG.

Ketiganya diduga bersekongkol membuang jasad STN guna menghilangkan barang bukti, sebelum akhirnya ditemukan oleh warga dan pihak berwajib.

Kasus ini kini menjadi atensi serius pihak kepolisian NTT. Ketiga tersangka terancam hukuman berat atas pasal berlapis, mulai dari kekerasan terhadap anak, pembunuhan berencana, hingga upaya penyembunyian mayat.

Kepergian STN meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia pendidikan di NTT. Masyarakat berharap penegakan hukum dilakukan seadil-adilnya untuk membalas tindakan keji yang telah merenggut masa depan seorang siswi SMP tersebut. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#pembunuhan #Sikka NTT #siswi 14 tahun