RADAR KUDUS – Di tengah dinamika geopolitik yang kian memanas di Semenanjung Korea, Korea Utara kembali mengejutkan dunia dengan memamerkan alutsista laut terbarunya.
Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, dilaporkan meninjau langsung latihan militer skala besar yang melibatkan kapal perusak mutakhir kebanggaan mereka, Choe Hyon.
Langkah ini dipandang oleh para analis internasional sebagai sinyal tegas bahwa Pyongyang terus memodernisasi kekuatan tempurnya secara mandiri, meskipun tekanan sanksi dan isolasi diplomatik dari Amerika Serikat serta sekutunya terus membayangi.
Kapal perusak Choe Hyon bukanlah kapal perang biasa. Dengan bobot mencapai 5.000 ton, kapal ini menjadi salah satu aset terbesar dan tercanggih yang dimiliki Angkatan Laut Korea Utara saat ini.
Dalam latihan yang berlangsung selama dua hari tersebut, Choe Hyon memamerkan berbagai manuver tempur kompleks di perairan terbuka.
Laporan dari Korean Central News Agency (KCNA) menyebutkan bahwa uji coba ini mencakup peluncuran rudal jelajah laut-ke-darat.
Rudal tersebut berhasil menghantam target simulasi dengan presisi, membuktikan kemampuan ofensif kapal perusak baru ini dalam menjangkau target di daratan dari posisi di tengah laut.
Satu hal yang menjadi sorotan dunia adalah penggunaan istilah "senjata strategis" oleh media pemerintah Korea Utara saat merujuk pada sistem persenjataan yang diuji coba.
Dalam terminologi militer Pyongyang, label "strategis" biasanya merujuk pada senjata yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir.
Hal ini memicu spekulasi di kalangan intelijen Barat bahwa rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal Choe Hyon mungkin telah dirancang untuk membawa muatan nuklir taktis.
Jika terbukti benar, ini akan memberikan dimensi ancaman baru bagi keamanan regional, karena Korea Utara kini memiliki kemampuan meluncurkan serangan nuklir tidak hanya dari darat dan kapal selam, tetapi juga dari kapal permukaan.
Visi Militer Lima Tahun Kim Jong Un
Dalam kunjungannya, Kim Jong Un menyatakan kepuasan luar biasa atas kinerja awak kapal dan efektivitas alutsista tersebut.
Ia memuji Choe Hyon sebagai tonggak sejarah dalam peningkatan kekuatan pertahanan laut negara.
"Kapal perusak tipe baru ini adalah simbol dari kedaulatan dan peningkatan kekuatan pertahanan laut kita yang tak tergoyahkan," tegas Kim Jong Un sebagaimana dikutip oleh KCNA.
Lebih lanjut, Kim menegaskan komitmennya untuk terus memproduksi massal kapal perang sekelas Choe Hyon atau bahkan yang lebih besar dalam periode pembangunan militer lima tahun ke depan.
Ambisi ini menunjukkan bahwa Korea Utara tidak berniat mengerem laju perlombaan senjata di kawasan tersebut.
Uji coba mandiri ini dilakukan saat Korea Utara tampak "absen" atau tidak dilibatkan dalam berbagai latihan gabungan skala besar yang dilakukan oleh blok Barat di kawasan tersebut.
Dengan melakukan uji coba sendiri, Pyongyang ingin menegaskan bahwa mereka tetap menjadi kekuatan militer yang patut diperhitungkan tanpa perlu bergantung pada aliansi mana pun.
Langkah provokatif ini diprediksi akan meningkatkan eskalasi ketegangan dengan Korea Selatan dan Jepang, yang selama ini menjadi sasaran utama dari pengembangan rudal-rudal strategis Korea Utara. (*)
Editor : Ali Mustofa