RADAR KUDUS – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran disebut membawa konsekuensi kerugian material yang signifikan bagi Washington.
Berdasarkan estimasi yang dihimpun kantor berita Anadolu Agency dalam laporan terbarunya pada Rabu (4/3), nilai kerusakan peralatan militer Amerika Serikat selama operasi terhadap Iran sejak Sabtu (28/2) mendekati 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun.
Dikutip dari Antara, salah satu penyumbang kerugian terbesar berasal dari rusaknya sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 milik AS yang ditempatkan di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.
Baca Juga: Perusahaan Keluarga Jadi Vendor Pemkab, Bupati Pekalongan Fadia Resmi Jadi Tersangka
Nilai radar tersebut diperkirakan mencapai 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp18,6 triliun.
Otoritas Qatar mengonfirmasi bahwa fasilitas itu terdampak serangan rudal Iran dan mengalami kerusakan.
Insiden lain terjadi pada Minggu (1/3), ketika tiga jet tempur F-15E Strike Eagle dilaporkan hilang akibat salah tembak oleh sistem pertahanan udara Kuwait.
Meski seluruh enam awak pesawat berhasil menyelamatkan diri, ketiga unit pesawat dinyatakan hancur total.
Biaya penggantiannya ditaksir sekitar 282 juta dolar AS atau setara Rp4,7 triliun.
Pada hari pertama serangan, Iran juga menargetkan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain.
Dua terminal komunikasi satelit serta sejumlah bangunan utama dilaporkan rusak.
Berdasarkan analisis intelijen sumber terbuka, terminal SATCOM yang dihantam diidentifikasi sebagai AN/GSC-52B dengan estimasi nilai sekitar 20 juta dolar AS, termasuk biaya pemasangan dan operasionalnya.
Tak hanya itu, Iran mengklaim berhasil melumpuhkan komponen radar AN/TPY-2 dari sistem pertahanan rudal balistik THAAD yang ditempatkan di kawasan industri Al-Ruwais, Uni Emirat Arab.
Citra satelit yang beredar memperlihatkan indikasi kerusakan di lokasi tersebut.
Nilai radar yang disebut terdampak diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp8,4 triliun.
Secara keseluruhan, kerusakan aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah akibat serangan balasan Iran diperkirakan menyentuh angka 1,902 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun.
Sejak dimulainya operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Teheran dilaporkan telah menyasar sedikitnya tujuh fasilitas militer AS di kawasan.
Target tersebut meliputi markas Armada Kelima di Bahrain, Camp Arifjan, Pangkalan Udara Ali Al Salem, dan Camp Buehring di Kuwait, Pangkalan Erbil di Irak, Pelabuhan Jebel Ali di Uni Emirat Arab—yang menjadi titik singgah utama Angkatan Laut AS di Timur Tengah—serta Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Serangan juga merambah fasilitas diplomatik Amerika Serikat. Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, dilaporkan terkena dua serangan drone.
Kementerian Pertahanan Saudi menyebutkan terjadi kebakaran terbatas dan kerusakan ringan pada kompleks tersebut.
Laporan The Washington Post menyebutkan bahwa fasilitas Stasiun CIA di dalam kompleks turut terdampak.
Di Kuwait City, Kedutaan Besar AS juga menjadi sasaran serangan drone dan rudal yang oleh pejabat setempat disebut sebagai serangan “brutal”.
Asap terlihat mengepul di sekitar kompleks, sementara rincian kerusakan belum sepenuhnya dipublikasikan.
Pihak kedutaan kemudian menghentikan operasional untuk sementara waktu dan mengevakuasi staf non-esensial beserta keluarga mereka.
Sementara itu, Konsulat Jenderal AS di Dubai, Uni Emirat Arab, dilaporkan diserang drone yang diduga berasal dari Iran.
Serangan menghantam area parkir dekat gedung konsulat dan memicu kebakaran kecil yang segera dipadamkan aparat setempat.
Meski area sekitar terdampak, tidak dilaporkan adanya kerusakan struktural besar pada bangunan utama konsulat.