RADAR KUDUS – Seorang perempuan dilaporkan mengalami sakit perut hebat, sementara rekannya mengalami gangguan penglihatan hingga rabun setelah diduga mengonsumsi minuman oplosan di sebuah tempat hiburan malam. Informasi tersebut mencuat melalui unggahan di media sosial yang kini beredar luas.
Dalam unggahan itu, perempuan tersebut menyebut dirinya tengah berada di Siloam Medika Canggu untuk mendapatkan penanganan medis.
Ia menjelaskan bahwa temannya mengalami gangguan penglihatan serius, sedangkan dirinya merasakan nyeri perut intens setelah minum di lokasi hiburan malam yang mereka kunjungi.
Ia juga mempertanyakan tanggung jawab pihak pengelola tempat hiburan atas insiden tersebut.
Menurut keterangannya, kondisi sang teman disebut semakin mengkhawatirkan, terutama terkait risiko gangguan penglihatan yang dikhawatirkan dapat memburuk.
Unggahan tersebut turut menyoroti dugaan adanya minuman yang telah dicampur atau dioplos sebagai penyebab munculnya keluhan kesehatan.
Namun, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola tempat hiburan maupun otoritas terkait mengenai insiden tersebut.
Dokter: Waspadai Gejala Keracunan Metanol
Menanggapi peristiwa itu, seorang dokter memberikan penjelasan edukatif melalui media sosial.
Ia mengingatkan bahwa pandangan kabur yang muncul setelah mengonsumsi minuman beralkohol dapat menjadi tanda keracunan, dan kondisi tersebut tergolong serius.
Dalam kasus minuman oplosan, salah satu zat yang paling ditakuti adalah metanol. Berbeda dengan etanol—alkohol yang umum terdapat dalam minuman beralkohol legal—metanol merupakan zat beracun.
Secara rasa, metanol bisa menyerupai alkohol biasa dan pada tahap awal dapat menimbulkan sensasi pusing atau hangat, sehingga kerap tidak disadari oleh korban.
Bahaya utama muncul beberapa jam setelah konsumsi. Di dalam tubuh, metanol akan diubah menjadi senyawa beracun yang dapat merusak saraf optik, yakni saraf yang menghubungkan mata dengan otak.
Kerusakan pada saraf ini dapat memicu gangguan penglihatan hingga kebutaan permanen. Gejala keracunan metanol umumnya muncul dalam rentang 6 hingga 24 jam setelah konsumsi.
Tanda-tandanya meliputi mual dan muntah hebat, sakit kepala berat, napas terasa cepat, pandangan kabur atau berkabut, hingga melihat lingkaran cahaya seperti “pelangi” di sekitar lampu.
Dokter tersebut menegaskan bahwa keracunan metanol merupakan kondisi gawat darurat medis. Penanganan dapat berupa pemberian antidotum serta tindakan medis seperti hemodialisis (cuci darah) untuk membantu mengeluarkan racun dari tubuh.
Namun, keberhasilan terapi sangat bergantung pada kecepatan pasien mendapatkan pertolongan.
Semakin cepat korban dibawa ke fasilitas kesehatan, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan permanen, termasuk risiko kebutaan.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan medis apabila mengalami gejala mencurigakan setelah mengonsumsi minuman beralkohol. (*)
Editor : Mahendra Aditya