Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tiongkok dan Ketegangan Selat Hormuz: Strategi Diplomasi Ekonomi di Tengah Krisis Timur Tengah

Ghina Nailal Husna • Rabu, 4 Maret 2026 | 05:20 WIB

Ilustrasi selat Hormuz
Ilustrasi selat Hormuz

RADAR KUDUS – Isu meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali memunculkan spekulasi bahwa Tiongkok berada dalam posisi tertekan.

Namun, jika ditinjau dari perspektif geopolitik dan ekonomi energi global, narasi “kepanikan” tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas strategis yang dijalankan Beijing.

Sebagai pembeli minyak mentah terbesar dunia, Tiongkok memiliki posisi tawar yang signifikan terhadap negara-negara produsen energi, termasuk Iran.

Ketergantungan Iran pada pasar ekspor energi, terutama di tengah tekanan sanksi Barat, menempatkan Beijing dalam posisi leverage yang kuat.

Tanpa perlu mengerahkan kekuatan militer atau armada laut, Tiongkok dapat memanfaatkan diplomasi ekonomi untuk menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus memperkuat pengaruhnya.

Di sisi lain, strategi ketahanan energi Tiongkok tidak hanya bergantung pada jalur laut seperti Selat Hormuz.

Diversifikasi pasokan melalui jaringan pipa darat dari Rusia dan kawasan Asia Tengah memberikan alternatif yang relatif aman dari potensi blokade maritim.

Langkah ini menunjukkan perencanaan jangka panjang dalam mengurangi risiko geopolitik terhadap kebutuhan energi nasional.

Krisis di Timur Tengah juga mempertegas arah kebijakan transisi energi Tiongkok. Investasi besar-besaran dalam energi terbarukan dan kendaraan listrik (electric vehicles/EV) memperlihatkan ambisi Beijing untuk mendominasi sektor energi masa depan.

Ketika banyak negara masih bergantung pada fluktuasi harga minyak, Tiongkok berupaya membangun fondasi ekonomi berbasis teknologi dan energi bersih sebagai strategi jangka panjang.

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa Tiongkok tidak terlibat secara militer dalam membantu Iran? Secara strategis, keterlibatan militer langsung berisiko memperluas konflik regional menjadi konfrontasi global yang lebih luas.

Kebijakan luar negeri Tiongkok selama beberapa dekade terakhir cenderung menghindari intervensi militer terbuka dan lebih menekankan pendekatan non-intervensi, stabilitas, serta kepentingan ekonomi.

Pendekatan ini mencerminkan orientasi pembangunan jangka panjang dibandingkan respons reaktif terhadap dinamika konflik.

Selain itu, Tiongkok memiliki hubungan ekonomi yang erat tidak hanya dengan Iran, tetapi juga dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.

Posisi ini memungkinkan Beijing berperan sebagai mitra strategis bagi berbagai pihak yang saling berseberangan.

Dalam konteks ini, Tiongkok berupaya memposisikan diri sebagai mediator dan penjaga stabilitas kawasan, bukan sebagai aktor yang memperuncing konflik.

Secara keseluruhan, strategi Tiongkok terhadap Iran lebih menitikberatkan pada dukungan ekonomi, teknologi, dan kerja sama jangka panjang yang membantu menjaga ketahanan ekonomi Iran di tengah tekanan sanksi.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengaruh geopolitik tidak selalu diwujudkan melalui kekuatan militer, melainkan juga melalui kontrol atas jalur perdagangan, investasi, dan teknologi. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#selat hormuz #tiongkok