RADAR KUDUS – Pemerintah China memastikan satu warga negaranya meninggal dunia akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel di Iran.
Di tengah situasi yang kian memanas, lebih dari 3.000 warga China berhasil dievakuasi keluar dari wilayah konflik.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Senin (2/3), menyampaikan duka mendalam atas wafatnya seorang warga China yang terjebak dalam konflik bersenjata di Teheran.
Ia menyebut pemerintah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan memastikan dukungan penuh diberikan kepada mereka yang terdampak.
Menurut Mao, Kedutaan Besar China di Iran telah diperintahkan untuk memberikan bantuan maksimal kepada warga negara China, termasuk pendampingan bagi keluarga korban.
Seiring memburuknya situasi keamanan, Kementerian Luar Negeri China bersama perwakilan diplomatiknya segera mengimbau seluruh warga China untuk meninggalkan Iran.
Hingga awal pekan ini, lebih dari 3.000 warga China telah keluar dari Iran melalui jalur darat maupun rute lain yang difasilitasi pemerintah.
Tim kerja dari misi diplomatik China di negara-negara tetangga juga diterjunkan ke wilayah perbatasan guna menyambut dan membantu proses evakuasi.
Beberapa jalur yang disiapkan untuk evakuasi antara lain melalui Azerbaijan, Armenia, Turkiye, dan Irak.
Pemerintah China kembali mengingatkan warganya di Iran agar meningkatkan kewaspadaan dan segera meninggalkan negara tersebut demi keselamatan.
Baca Juga: Rusia Angkat Suara Usai Iran Diserang, AS Dinilai Tak Konsisten Soal Negosiasi Nuklir
Sementara itu, terkait operasi militer Amerika Serikat dan Israel, Mao menegaskan bahwa pemerintah China tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai serangan tersebut.
Serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2) dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat militer.
Laporan dari organisasi kemanusiaan Iran menyebut sedikitnya 555 orang tewas akibat serangan itu.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan berupa drone dan rudal ke wilayah Israel serta sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Tiga personel militer AS dilaporkan turut menjadi korban tewas dalam serangan balasan tersebut.
Baca Juga: Lonjakan Harga Emas di Pegadaian, UBS dan Galeri24 Sama-Sama Meroket
China menyatakan serangan tersebut tidak memiliki mandat dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dinilai melanggar hukum internasional.
Pemerintah China menegaskan bahwa kedaulatan dan integritas teritorial negara-negara di kawasan harus dihormati sepenuhnya.
“Prioritas utama saat ini adalah menghentikan operasi militer dan mencegah konflik meluas,” ujar Mao, seraya menambahkan bahwa China siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mendorong dialog dan jalur diplomasi.
Sedangkan situasi semakin kompleks setelah Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan tersebut.
Jalur perairan yang berada di antara Oman dan Iran itu merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting di dunia, dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati kawasan tersebut.
Mao menekankan bahwa Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya adalah jalur vital bagi perdagangan internasional, khususnya komoditas energi.
China mendesak semua pihak untuk menahan diri, menghentikan operasi militer, serta menghindari eskalasi yang dapat berdampak lebih luas terhadap perekonomian global.
Penutupan selat itu memicu gangguan pada pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG).
Baca Juga: Pagi Ini Harga Emas Antam Melemah, Simak Rincian Lengkapnya
Sejumlah kapal dilaporkan menunggu di sekitar pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, akibat ketidakpastian situasi.
Sejak akses Selat Hormuz dihentikan, harga minyak di pasar Asia melonjak sekitar 13 persen hingga menyentuh 80 dolar AS per barel.
Jika kondisi ini berlangsung lama, harga diperkirakan bisa menembus angka 100 dolar AS per barel.
Di sisi lain, Mao juga membantah laporan yang menyebut Iran membeli rudal anti-kapal supersonik CM-302 dari China.
Ia menegaskan kabar tersebut tidak benar dan menekankan bahwa China selalu mematuhi kewajiban internasionalnya.
Pemerintah China kembali menegaskan penolakannya terhadap penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional serta segala bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain.
Beijing mendorong negara-negara di kawasan untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi guna menjaga stabilitas regional di tengah situasi yang semakin genting.