RADAR KUDUS – Amerika Serikat dan Israel dinilai tidak memiliki dasar kuat untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran.
Situasi tersebut memunculkan tanda tanya besar mengenai komitmen Washington dalam melanjutkan perundingan terkait program nuklir Teheran.
Pernyataan itu disampaikan oleh Mikhail Ulyanov, Perwakilan Tetap Rusia untuk Organisasi Internasional di Wina, Austria, pada Senin (2/3).
Baca Juga: Lonjakan Harga Emas di Pegadaian, UBS dan Galeri24 Sama-Sama Meroket
“Kami ingin negosiasi mengenai program nuklir Iran tetap berjalan,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengaku sulit membayangkan proses diplomasi bisa diteruskan seperti biasa setelah terjadinya serangan tersebut.
Menurutnya, aksi militer itu justru menjadi penghambat serius bagi kelanjutan dialog.
Ulyanov menyampaikan pandangannya usai menghadiri sidang khusus Dewan Gubernur International Atomic Energy Agency (IAEA) yang membahas serangan gabungan AS dan Israel.
Ia menilai tindakan militer tersebut mengejutkan, terlebih karena sebelumnya perundingan masih berlangsung dan menunjukkan kemajuan.
Bahkan, otoritas Oman serta Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, disebut turut mencatat adanya perkembangan positif dalam dialog itu.
“Saya beberapa kali berbicara dengannya pekan lalu. Lalu tiba-tiba pengeboman dimulai. Bagaimana ini bisa terjadi? Ini memunculkan pertanyaan tentang keseriusan AS dalam proses negosiasi,” kata Ulyanov.
Pada Sabtu lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran yang menimbulkan korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Baca Juga: Pagi Ini Harga Emas Antam Melemah, Simak Rincian Lengkapnya
Iran kemudian membalas dengan menggempur wilayah Israel serta pangkalan militer AS di beberapa negara Timur Tengah.
Situasi kian memanas setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengeluarkan ancaman keras terkait penutupan Selat Hormuz.
Brigadir Jenderal Ebrahim Jabbari, penasihat senior panglima tertinggi IRGC, menyatakan bahwa Iran menutup jalur pelayaran strategis tersebut sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel.
“Selat Hormuz telah ditutup. Kami akan menyerang dan membakar kapal mana pun yang mencoba melintas,” tegas Jabbari dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Senin (2/3).
Ia juga memperingatkan bahwa jalur pipa minyak dapat menjadi target berikutnya.
Iran, lanjutnya, tidak akan membiarkan “setetes pun minyak” keluar dari kawasan tersebut di tengah meningkatnya eskalasi konflik.