Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Saif al-Islam Khadafi, Putra Muammar Khadafi Dilaporkan Tewas Dibunuh Kelompok Bersenjata, Otoritas Libya Buka Penyelidikan

Ali Mustofa • Rabu, 4 Februari 2026 | 15:38 WIB

Saif al-Islam Khadafi, putra dari mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi
Saif al-Islam Khadafi, putra dari mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi

RADAR KUDUS – Saif al-Islam Khadafi, putra dari mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, dilaporkan meninggal dunia setelah ditemukan tak bernyawa di kediamannya di Kota Zintan, Libya, pada Senin (2/2/2026).

Sejumlah media internasional menyebutkan, Saif al-Islam diduga menjadi korban pembunuhan oleh sekelompok pria bersenjata yang menerobos rumahnya.

Peristiwa tersebut saat ini masih dalam penanganan aparat keamanan Libya.

Baca Juga: Perbaiki Atap Gudang MBG di Pecangaan, Pekerja Tersengat Listrik Tegangan Tinggi

Otoritas setempat melakukan penyelidikan untuk mengungkap latar belakang kejadian serta mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Informasi mengenai kematian Saif al-Islam pertama kali disampaikan oleh penasihat politik dan pengacaranya.

Mereka mengonfirmasi bahwa pria berusia 53 tahun itu ditemukan tewas di dalam rumahnya.

Laporan awal menyebutkan, para pelaku datang secara tiba-tiba sebelum melancarkan serangan bersenjata.

Hingga kini, motif pembunuhan maupun identitas pelaku belum diungkap secara resmi.

Aparat keamanan Libya masih mendalami berbagai kemungkinan terkait insiden tersebut.

Saif al-Islam selama ini dikenal sebagai figur penting dalam lingkaran kekuasaan ayahnya dan sempat dipandang sebagai calon penerus politik Muammar Khadafi sebelum rezim tersebut tumbang pada 2011.

Baca Juga: Saat Arsip Dibuka Namun Keadilan Dipertanyakan: Babak Baru Polemik Kasus Jeffrey Epstein

Ia pernah ditahan setelah kejatuhan Tripoli, kemudian dibebaskan pada 2017.

Pada 2021, namanya kembali mencuat setelah mendaftarkan diri sebagai calon presiden Libya, meski langkah politiknya terhambat persoalan hukum dan penolakan politik.

Kematian Saif al-Islam menambah panjang dinamika politik Libya pascaperang saudara, di tengah upaya negara tersebut keluar dari konflik berkepanjangan dan perpecahan kekuasaan.

Laporan kantor berita Libyan News Agency menyebutkan, kematian Saif al-Islam dikonfirmasi oleh kepala tim politiknya pada Selasa (3/2/2026).

Kepada AFP, pengacaranya asal Prancis, Marcel Ceccaldi, menyatakan kliennya tewas dibunuh oleh “unit komando yang terdiri dari empat orang” yang menyerbu kediamannya di Zintan.

Baca Juga: Jejak Kekuasaan Epstein: Dokumen Baru Bongkar Jaringan Elite Global yang Membungkam Skandal

“Dia dibunuh sekitar pukul 14.00 waktu setempat di rumahnya di Zintan oleh empat orang anggota komando,” ujar Ceccaldi.

Koresponden Al Jazeera Arabic di Libya, Ahmed Khalifa, juga melaporkan bahwa Saif ditembak hingga tewas.

Namun, versi berbeda disampaikan oleh saudara perempuannya yang mengatakan kepada televisi Libya bahwa Saif meninggal dunia di dekat perbatasan Libya dengan Aljazair.

Media lokal Libya turut melaporkan bahwa kamera pengawas di sekitar lokasi kejadian diduga dimatikan sebelum serangan berlangsung.

Meski demikian, hingga kini belum diketahui secara pasti pihak yang berada di balik pembunuhan tersebut.

Pemerintah Libya juga belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait detail kejadian.

Milisi Brigade Tempur 444 secara terbuka membantah keterlibatan dalam insiden itu.

Sementara itu, kantor Jaksa Agung Libya dikabarkan telah membuka penyelidikan resmi untuk mengusut kasus pembunuhan tersebut.

Baca Juga: Nama-Nama Tokoh Dunia Bermunculan dalam Arsip Jeffrey Epstein, Dari Pangeran Inggris hingga Pengusaha Teknologi

Meski tidak pernah memegang jabatan formal di pemerintahan, Saif al-Islam selama periode 2000–2011 dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh setelah ayahnya.

Ia dikenal luas sebagai figur kuat dan disegani di Libya.

Saif ditangkap di Zintan pada 2011 saat berusaha melarikan diri setelah jatuhnya Tripoli ke tangan oposisi.

Ia kemudian dibebaskan enam tahun kemudian melalui program amnesti umum.

Namun, Saif juga menghadapi berbagai tuduhan pelanggaran HAM, termasuk penyiksaan dan kekerasan terhadap lawan politik rezim Khadafi.

Namanya masuk dalam daftar sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak Februari 2011, termasuk larangan bepergian.

Selain itu, ia juga menjadi buronan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi selama konflik Libya pada 2011.

 
 
 
Editor : Ali Mustofa
#meninggal #libya #Saif al Islam Khadafi #Dibunuh #kelompok bersenjata