RADAR KUDUS - Pulau Jawa sejak lama menjadi pusat kajian penting dalam studi kehidupan purba di Nusantara, bahkan dunia.
Berbagai penemuan fosil dan jejak arkeologis menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi habitat beragam manusia purba dan fauna besar pada masa lampau.
Salah satu kawasan yang kini kembali menyita perhatian para peneliti adalah Situs Purbakala Patiayam yang terletak di Kudus dan sebagian wilayah Pati, Jawa Tengah.
Pada Januari 2024, tim peneliti dari Center for Prehistory and Austronesian Studies (CPAS) menemukan fosil gajah purba jenis Elephas di kawasan Bukit Slumprit, yang termasuk dalam situs Patiayam.
Fosil tersebut diperkirakan berasal dari kala Plestosen Tengah dengan usia antara 800.000 hingga 120.000 tahun.
Temuan ini menambah daftar panjang penemuan fosil penting di kawasan tersebut, termasuk fragmen manusia purba jenis Homo erectus.
Peneliti menyebut fosil Elephas yang ditemukan kemungkinan besar merupakan individu utuh yang mati di lokasi tersebut.
Hingga penggalian dihentikan, sekitar 30 persen bagian tubuh berhasil diekskavasi, termasuk tulang lengan, skapula, dan bagian yang diduga gading.
Berdasarkan perbandingan dengan penelitian sebelumnya, gajah purba ini diperkirakan memiliki tinggi mencapai 3,5 hingga 4 meter, lebih besar dibandingkan gajah Asia yang hidup saat ini.
Ekskavasi Januari 2024 dilakukan di tiga titik berbeda berdasarkan laporan warga setempat yang menemukan fragmen tulang saat menggarap lahan.
Salah satu titik penggalian bahkan disebut peneliti sebagai “masterpiece” karena kondisi fosil yang relatif utuh dan masih berada dalam satu kesatuan anatomi, sesuatu yang jarang ditemukan di situs Plestosen Tengah lain di Pulau Jawa.
Lingkungan Purba yang Kaya Kehidupan
Berbagai temuan di Patiayam memperlihatkan gambaran lingkungan purba yang relatif stabil dan kaya sumber daya.
Selain gajah purba jenis Elephas dan Stegodon, peneliti juga menemukan fosil fauna besar lain seperti banteng purba, kerbau, rusa dari berbagai jenis, hingga karnivora yang diduga berasal dari genus Panthera.
Bahkan, fosil monyet turut ditemukan, menandakan adanya kombinasi lingkungan terbuka seperti sabana dan kawasan berhutan.
Kondisi ini diyakini memungkinkan manusia purba bertahan hidup dengan berburu dan memanfaatkan sumber daya alam sekitar.
Keberadaan perkakas batu seperti kapak genggam, serpih, dan alat serut yang ditemukan pada penelitian lanjutan memperkuat dugaan bahwa manusia purba Homo erectus pernah menghuni kawasan ini, sejajar secara kronologis dengan manusia purba di Sangiran.
Sejarah Panjang Penelitian Patiayam
Kajian tentang Patiayam sejatinya telah berlangsung sejak akhir abad ke-19. Fosil-fosil di kawasan ini sempat menarik perhatian Raden Saleh dan naturalis asing seperti Franz Wilhelm Junghuhn.
Masyarakat setempat kala itu menyebut temuan tulang berukuran besar sebagai “balung buto” atau tulang raksasa.
Penelitian ilmiah terus berlanjut hingga masa Eugene Dubois, penemu Homo erectus, meski sempat terhenti akibat perang dan kondisi politik.
Pada akhir 1970-an, Sartono dan Saim kembali melakukan penelitian dan menemukan fragmen tengkorak serta gigi premolar Homo erectus, menegaskan pentingnya Patiayam dalam peta evolusi manusia di Asia Tenggara.
Penelitian lanjutan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2005 dan 2007 menemukan bukti budaya manusia purba berupa perkakas batu, semakin menguatkan posisi Patiayam sebagai situs hominid penting.
Secara geologis, situs Patiayam merupakan sebuah kubah dengan lapisan tanah yang merekam perubahan lingkungan dari laut, rawa, hingga daratan akibat sedimentasi dan aktivitas vulkanik Gunung Muria purba.
Keunikan stratigrafi inilah yang membuat kawasan ini mampu menyimpan jejak kehidupan purba secara relatif utuh.
Hingga kini, Museum Purbakala Patiayam telah mengoleksi sekitar 10.000 fragmen fosil dari sedikitnya 17 spesies hewan, baik laut, rawa, maupun darat.
Para ahli menilai situs ini sebagai “laboratorium alam” yang sangat kaya untuk mempelajari evolusi lingkungan, fauna, dan manusia purba di Pulau Jawa.
Meski telah dikenal di kalangan akademisi internasional, situs Patiayam masih membutuhkan penelitian berkelanjutan dan dukungan serius, terutama dari pemerintah pusat.
Para peneliti optimistis bahwa ekskavasi lanjutan akan membuka lebih banyak data penting tentang sejarah panjang kehidupan purba di Nusantara.
Dengan kekayaan temuan dan konteks geologinya yang unik, Situs Purbakala Patiayam berpotensi sejajar dengan situs-situs dunia lain dalam menjelaskan perjalanan evolusi manusia dan lingkungannya di masa lampau. (Ghina)
Editor : Ali Mustofa