RADAR KUDUS - Kasus Jeffrey Epstein kembali menjadi sorotan dunia setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen hasil investigasi FBI.
Publikasi ini membuka tabir baru relasi Epstein dengan sejumlah tokoh global, termasuk kemunculan nama dan entitas yang dikaitkan dengan Indonesia.
Sebanyak lebih dari 3 juta halaman dokumen, 180 ribu gambar, dan 2.000 video dirilis pada akhir Januari.
Berkas tersebut memuat korespondensi email, catatan perjalanan, hingga laporan masyarakat yang sebelumnya dirahasiakan.
Meski tidak semua nama yang tercantum menunjukkan keterlibatan langsung dalam kejahatan, kemunculannya tetap memicu pertanyaan publik.
Nama Konglomerat Indonesia Disebut
Salah satu nama yang muncul adalah seorang konglomerat Indonesia, Hary Tanoesoedibjo. Dalam dokumen, ia disebut terlibat dalam pengembangan properti milik Donald Trump dan digambarkan sebagai seorang miliarder.
Berkas tersebut juga menuliskan bahwa Hary Tanoesoedibjo diduga memperkenalkan Confidential Human Source (CHS) ke CIA di Indonesia.
Dokumen yang sama menyebut Heritanu pernah membeli rumah Donald Trump di Beverly Hills dengan harga jauh di atas pasar.
Transaksi ini ditafsirkan oleh penulis dokumen sebagai bentuk dugaan kolusi atau donasi politik terselubung.
Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi kebenaran tuduhan tersebut.
Selain nama individu, beberapa lokasi di Indonesia juga muncul dalam dokumen.
Bali disebut dalam sejumlah email terkait perjalanan, hotel, pengiriman kargo, hingga dugaan perekrutan perempuan.
Bahkan, terdapat klaim bahwa Epstein pernah berada di Bali pada 2009, meski saat itu ia seharusnya menjalani hukuman penjara.
Sementara itu, Jakarta disebut sebagai salah satu lokasi pertemuan Epstein dengan tokoh global, termasuk Bill Gates.
Identitas pihak lain dalam pertemuan tersebut disensor karena masih dalam proses penyelidikan.
Nama Tokoh Nasional dan Organisasi
Dokumen juga memuat nama Presiden ke-2 RI Soeharto, Presiden Joko Widodo, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Namun, ketiganya hanya muncul dalam konteks bahan bacaan atau pembaruan berita yang dikoleksi Epstein, tanpa bukti komunikasi atau hubungan langsung.
Nama Nahdlatul Ulama (NU) turut tercantum sebagai referensi bacaan terkait kajian organisasi Islam moderat. Kemunculan ini tidak menunjukkan adanya relasi langsung dengan Epstein.
Berkas juga menyinggung:
- Dugaan perekrutan perempuan Indonesia untuk pekerjaan pijat di luar negeri
- Ketertarikan Epstein membeli pesawat pribadi yang dikaitkan dengan nama Bakrie
- Korespondensi terkait agency modeling yang menawarkan pekerjaan di Indonesia
Semua informasi tersebut belum disertai bukti hukum yang menyimpulkan keterlibatan langsung pihak-pihak terkait.
Simbol Baal dan Kiswah Ka’bah
Salah satu bagian paling kontroversial adalah penyebutan rekening bank Epstein atas nama “Baal”, yang oleh sebagian pihak dikaitkan dengan simbol kepercayaan kuno.
Ada pula klaim bahwa Epstein menerima potongan Kiswah Ka’bah sebagai hadiah, lengkap dengan dokumen pengiriman resmi.
Dokumen email menunjukkan kain tersebut diberikan sebagai hadiah, bukan hasil transaksi jual beli.
Relasi Global Epstein
Selain Indonesia, dokumen kembali menyoroti hubungan Epstein dengan tokoh dunia seperti Donald Trump, Pangeran Andrew, Elon Musk, Richard Branson, hingga pejabat Inggris dan Eropa.
Sebagian besar pihak membantah mengetahui atau terlibat dalam kejahatan Epstein, meski jejak komunikasi dan pertemanan tercatat dalam dokumen.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa tidak semua klaim dalam dokumen merupakan fakta yang telah diverifikasi.
Sejumlah nama muncul hanya sebagai laporan masyarakat, referensi bacaan, atau komunikasi non-kriminal.
Meski demikian, publikasi dokumen Epstein menjadi salah satu pengungkapan terbesar dalam sejarah hukum AS dan membuka kembali diskusi global tentang kekuasaan, jaringan elit, serta transparansi hukum lintas negara. (Ghina)
Editor : Ali Mustofa