RADAR KUDUS – Rilis dokumen terbaru terkait jaringan pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein oleh otoritas Amerika Serikat (AS) pekan lalu menyedot perhatian publik global.
Tumpukan berkas setebal sekitar tiga juta halaman itu menyeret nama sejumlah figur ternama dunia, termasuk pendiri Microsoft, Bill Gates.
Nama Bill Gates tercantum berulang kali dalam korespondensi email milik Epstein yang kini dibuka ke publik.
Baca Juga: Hidup Bukan Sekadar Mengalir: Antara Ikhtiar, Arah, dan Tanggung Jawab
Salah satu email yang menjadi sorotan bertanggal 3 Maret 2017.
Seperti dilaporkan media Turki, Haberler, Selasa (3/2/2026), email tersebut memuat pembahasan beragam isu strategis, mulai dari simulasi pandemi hingga senjata berbasis neuroteknologi yang berkaitan dengan keamanan nasional.
Pembicaraan mengenai simulasi pandemi dalam email itu menjadi perhatian khusus, lantaran dilakukan sekitar tiga tahun sebelum pandemi virus Corona (COVID-19) benar-benar melanda dunia.
Secara rinci, email tersebut mengulas aspek teknis kerja sama antara Epstein, yang dikenal sebagai pemodal berpengaruh di AS, dengan Bill Gates beserta timnya.
Dalam pesan berjudul “bgc3 Deliverables and Scope”, Epstein tampak mengajukan sejumlah gagasan proyek lintas sektor, mencakup bidang kesehatan hingga keamanan nasional.
Email tersebut ditujukan langsung kepada Gates, yang disapa dengan nama depan “Bill”, serta turut ditembuskan kepada Larry Cohen.
Baca Juga: Dunia sebagai Ladang Ujian: Belajar dari Empat Golongan Manusia
Larry Cohen diketahui menjabat sebagai CEO sekaligus managing partner Gates Ventures, entitas layanan pribadi milik Gates.
Hingga 2018, Gates Ventures masih dikenal dengan nama bgC3, sebuah lembaga yang berfokus pada kajian kesehatan, pembangunan global, serta investasi teknologi.
Dalam isi korespondensi itu, disebutkan bahwa sejumlah pekerjaan tengah disiapkan untuk lima tema utama.
Kelima topik tersebut meliputi simulasi pandemi, senjata neuroteknologi, data kesehatan digital, penyakit kronis dan ilmu otak, serta ekonomi kesehatan.
Untuk topik simulasi pandemi, email itu memuat pembahasan mengenai “rekomendasi tindak lanjut dan/atau spesifikasi teknis untuk simulasi strain pandemi”.
Baca Juga: Matematika Kehidupan: Rumus Sederhana yang Diam-Diam Mengatur Jalan Hidup Manusia
Sementara pada isu senjata neuroteknologi, dibahas rencana penyusunan “buku putih mengenai neuroteknologi sebagai senjata dalam konteks intelijen dan pertahanan nasional”.
Topik data kesehatan digital mengulas rancangan atau rekomendasi sistem digital berbasis zero-knowledge proof yang bertujuan melindungi privasi data kesehatan, sekaligus memungkinkan akses terbatas terhadap informasi pribadi yang telah disaring secara digital.
Adapun pembahasan penyakit kronis dan ilmu otak mencakup rekomendasi terkait penerapan neuroteknologi pada penyakit kronis maupun degeneratif.
Sementara topik ekonomi kesehatan menyoroti pola dan besaran pengeluaran kesehatan konsumen di Amerika Serikat.
Masih berdasarkan isi email tersebut, Epstein mengungkapkan bahwa setelah berdiskusi dengan Gates, ia bekerja bersama sekelompok pakar yang disebut dengan nama depan saja, seperti Rodger, Mark, Chris, Trevor, dan Geoff, untuk mengembangkan berbagai proyek tersebut.
Di bagian penutup email, Epstein menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan serta menyatakan kesiapannya untuk membantu lebih lanjut “dengan cara apa pun”.
Terbukanya isi email ini memicu beragam spekulasi, terutama karena menunjukkan adanya diskusi mengenai pandemi jauh sebelum COVID-19 mengguncang dunia.
Meski demikian, otoritas terkait menegaskan bahwa dokumen Epstein tersebut masih menjadi bagian dari proses peninjauan berkelanjutan dan meminta publik bersikap hati-hati dalam menafsirkan setiap informasi yang terkandung di dalamnya.
Editor : Ali Mustofa