RADAR KUDUS - Film dokumenter Melania, yang mengangkat kisah kehidupan Melania Trump dalam 20 hari menjelang pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat untuk periode kedua, menuai sambutan yang sangat buruk dari kritikus maupun penonton.
Alih-alih mendapat apresiasi sebagai potret eksklusif sosok Ibu Negara, film ini justru menjadi salah satu dokumenter dengan penerimaan terendah di berbagai platform penilaian film.
Di IMDb, Melania hanya memperoleh skor sekitar 1,3 dari 10, menjadikannya salah satu film dengan rating terendah yang tercatat di situs tersebut saat ini.
Angka tersebut mencerminkan ketidakpuasan mayoritas penonton yang menilai film ini gagal memenuhi ekspektasi, baik dari segi narasi maupun substansi.
Respons serupa juga terlihat di kalangan kritikus film profesional.
Di Rotten Tomatoes, film ini hanya mengantongi skor sekitar 10–11 persen, menandakan bahwa sebagian besar kritikus tidak merekomendasikannya.
Sementara itu, Metacritic juga mencatat nilai yang sangat rendah, memperkuat kesan bahwa Melania tidak berhasil meyakinkan para pengamat perfilman.
Kritik utama yang muncul menyoroti pendekatan film yang dinilai terlalu datar dan dangkal.
Banyak ulasan menyebut dokumenter ini lebih menyerupai materi promosi atau propaganda politik ketimbang sebuah karya jurnalistik yang kritis dan informatif.
Penonton berharap mendapatkan gambaran mendalam tentang kepribadian, pandangan, serta dinamika batin Melania Trump di tengah sorotan politik global, namun harapan tersebut dinilai tidak terpenuhi.
Padahal, proyek ini disebut-sebut diproduksi dengan anggaran besar, diperkirakan mencapai 75 juta dolar AS.
Besarnya dana produksi justru memicu kekecewaan yang lebih dalam, karena kualitas cerita dan kedalaman eksplorasi karakter dianggap tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.
Sejumlah kritikus menilai film ini melewatkan banyak kesempatan untuk menggali sisi personal Melania Trump yang jarang tersentuh publik.
Meski demikian, tidak semua respons bersifat negatif.
Sebagian kecil penonton memberikan ulasan positif, memuji visual yang rapi serta akses eksklusif yang dimiliki film ini terhadap lingkungan internal keluarga Trump.
Namun, jumlah dukungan tersebut dinilai sangat minim dan tidak mampu mengimbangi gelombang kritik yang datang.
Secara keseluruhan, kegagalan Melania di mata publik dan kritikus menjadi pengingat bahwa popularitas tokoh dan sorotan politik besar tidak otomatis menjamin kualitas sebuah karya film.
Kasus ini menunjukkan bahwa penonton tetap menuntut kedalaman, kejujuran, dan sudut pandang yang kuat, terutama dalam genre dokumenter yang mengklaim menyajikan realitas.
Film Melania akhirnya menjadi contoh nyata bahwa nama besar dan anggaran fantastis belum tentu mampu menghadirkan karya yang mendapat sambutan hangat, apalagi meninggalkan kesan mendalam bagi publik. (Ghina)
Editor : Ali Mustofa