Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Deforestasi Bikin Nyamuk Makin Agresif, Risiko Penyakit Meningkat

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 3 Februari 2026 | 11:41 WIB
ilustrasi nyamuk (foto:nechaev-kon)
ilustrasi nyamuk (foto:nechaev-kon)

RADAR KUDUS - Apakah Anda merasa nyamuk semakin banyak dan semakin sering menyerang manusia? Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif.

Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa deforestasi dan kerusakan habitat alami berperan besar dalam meningkatnya interaksi antara nyamuk dan manusia dengan konsekuensi serius bagi kesehatan publik.

Seiring menyusutnya kawasan hutan dan hilangnya satwa liar, nyamuk yang sebelumnya bergantung pada hewan sebagai inang darah kini semakin sering beralih ke manusia.

Perubahan pola ini memicu kekhawatiran global terkait meningkatnya risiko penularan berbagai penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers berjudul Aspects of the Blood Meal of Mosquitoes (Diptera: Culicidae) During the Crepuscular Period in Atlantic Forest Remnants of the State of Rio de Janeiro, Brazil mengungkap temuan penting terkait fenomena tersebut.

Penelitian ini dilakukan di sisa-sisa Hutan Atlantik Brasil, salah satu ekosistem yang mengalami tekanan deforestasi tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyamuk semakin sering mengisap darah manusia, terutama di wilayah yang mengalami degradasi hutan.

Kondisi ini berkontribusi terhadap meningkatnya penularan penyakit seperti demam berdarah, Zika, demam kuning, dan penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk.

Hilangnya habitat alami membuat keseimbangan ekosistem terganggu, sehingga vektor penyakit lebih mudah menjangkau manusia.

Deforestasi, yang mencakup penebangan hutan secara masif, pembukaan lahan, dan ekspansi permukiman telah secara drastis mengurangi populasi tumbuhan dan satwa liar.

Dalam waktu bersamaan, aktivitas manusia justru semakin meningkat di wilayah yang sama.

Perpaduan dua faktor ini menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak dan memperluas jangkauan inangnya.

“Nyamuk yang biasanya mengisap darah inang lain di dalam habitat alami mereka dapat beralih ke manusia ketika habitat tersebut tidak lagi cocok dan inang aslinya menghilang,” ujar Laura Harrington, profesor entomologi bergelar PhD dari Cornell University. Dikutip dari natgeoindonesia.

Menurutnya, perubahan perilaku nyamuk ini merupakan respons ekologis terhadap tekanan lingkungan yang diciptakan manusia.

Para peneliti menekankan bahwa meningkatnya kasus penyakit yang ditularkan nyamuk tidak bisa dilihat semata sebagai masalah kesehatan, melainkan juga sebagai konsekuensi langsung dari kerusakan lingkungan.

Upaya pengendalian penyakit akan sulit berhasil jika tidak dibarengi dengan perlindungan ekosistem dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Dengan kata lain, semakin luas hutan yang hilang, semakin besar pula peluang nyamuk untuk “mendekat” ke manusia.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada kesehatan alam—dan kerusakan lingkungan dapat kembali menghantam manusia dalam bentuk ancaman penyakit. (Ghina)

 

Editor : Ali Mustofa
#deforestasi #nyamuk