RADAR KUDUS - Publik dikejutkan oleh kabar viral tentang 29 siswa SMP Negeri 1 Mangunjaya, Pangandaran, yang dilaporkan belum mampu membaca dengan lancar.
Fakta ini menimbulkan keprihatinan luas, terlebih karena para siswa tersebut sudah duduk di bangku SMP, bahkan sebagian berada di kelas 9.
Pihak sekolah menyatakan akan melakukan evaluasi untuk menelusuri penyebab terjadinya kondisi tersebut.
Cuplikan wawancara di lapangan semakin memperlihatkan persoalan yang lebih dalam.
Beberapa siswa tidak hanya kesulitan membaca, tetapi juga tidak memahami operasi matematika dasar seperti perkalian sederhana.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar. Bagaimana mungkin siswa bisa naik kelas tanpa menguasai kemampuan elementer seperti membaca dan berhitung?
Masalah ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan sistem pendidikan nasional, termasuk dihapuskannya ujian sebagai penentu kelulusan.
Di satu sisi, kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan akademik. Namun di sisi lain, jika tidak disertai pengawasan dan keseriusan, standar kompetensi dasar menjadi kabur.
Akibatnya, siswa dapat terus naik jenjang tanpa benar-benar siap secara akademik maupun mental.
Lebih jauh, persoalan pendidikan di Indonesia ternyata bersifat sistemik dan kompleks.
Tidak hanya menyangkut kurikulum dan evaluasi, tetapi juga menyentuh kesejahteraan guru.
Banyak guru, khususnya honorer, menerima gaji yang sangat rendah, bahkan tidak mencukupi kebutuhan hidup layak.
Dalam kondisi seperti ini, sulit mengharapkan proses pendidikan berjalan optimal dan penuh dedikasi.
Situasi ini memicu keputusasaan, baik di kalangan pendidik maupun orang tua. Sebagian guru mengaku sudah berada di titik lelah dan pasrah.
Di sisi lain, orang tua menghadapi dilema besar: biaya pendidikan semakin mahal, sementara kualitas sekolah tidak selalu menjamin hasil yang sepadan.
Tak sedikit orang tua mulai mempertimbangkan homeschooling sebagai alternatif, meski pilihan ini juga menuntut kesiapan besar dari sisi waktu, finansial, dan kapasitas orang tua.
Namun, diskusi tentang pendidikan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan baca tulis semata.
Pendidikan sejatinya juga mencakup pembentukan karakter, seperti kejujuran, ketekunan, tanggung jawab, dan kemauan belajar.
Bahkan dalam kondisi keterbatasan ekonomi, karakter masih bisa ditanamkan oleh keluarga dan lingkungan.
Banyak contoh menunjukkan bahwa individu dengan pendidikan formal rendah justru memiliki etos kerja dan integritas yang kuat.
Dari sini muncul kesadaran penting. Orang tua memegang peran sentral dalam pendidikan anak, terutama pada usia dini.
Pendidikan tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Orang tua perlu siap berkorban, baik waktu, tenaga, maupun materi untuk memastikan anak mendapatkan bekal karakter, spiritual, dan mental yang kuat.
Dalam perspektif yang lebih luas, pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa. Negara yang memandang pendidikan hanya sebagai beban anggaran akan tertinggal.
Sebaliknya, negara yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi pembangunan manusia akan menuai hasilnya dalam bentuk kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Krisis pendidikan yang hari ini kita saksikan seharusnya menjadi alarm bersama. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk bertanya.
Kemana arah pendidikan Indonesia hendak dibawa? Dan yang tak kalah penting, apa peran kita sebagai orang tua, pendidik, dan warga negara dalam memperbaikinya, mulai dari lingkup terkecil: keluarga dan diri sendiri. (Ghina)
Editor : Ali Mustofa