RADAR KUDUS - Kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan global kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mengambil alih wilayah Greenland dengan berbagai cara.
Bahkan, Trump mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 25 persen kepada delapan negara anggota NATO yang menolak rencana tersebut.
Pernyataan tersebut menuai kecaman luas, khususnya dari negara-negara Eropa. Sejumlah pihak menilai langkah Amerika Serikat berpotensi melanggar hukum internasional dan memperuncing konflik internal di tubuh NATO. Situasi ini memicu kekhawatiran publik global akan kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga.
Pengamat hubungan internasional dari UNPAD dan President University, Teuku Rezasyah, menilai kondisi politik dunia saat ini berada dalam fase ketidakstabilan.
Ia mengibaratkan dinamika global seperti dua kalajengking berbisa dalam satu akuarium, di mana setiap pergerakan kecil dapat memicu konflik besar.
Menurutnya, dunia tengah menyaksikan pergeseran kekuatan global.
Dominasi Amerika Serikat atau Pax Americana dinilai terus menurun, sementara pengaruh China kian menguat.
Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari melemahnya kondisi ekonomi domestik AS, meningkatnya utang negara, hingga ketertinggalan Amerika dalam sektor manufaktur dan ekspor dibandingkan China.
Di sisi lain, China dinilai semakin agresif memperluas pengaruh global melalui inisiatif Belt and Road, penguasaan sumber daya rare earth, serta kemitraan strategis dengan banyak negara dan kawasan.
Kondisi tersebut membuat Amerika Serikat merasa terancam dan cenderung mengambil langkah-langkah yang berseberangan dengan hukum internasional.
Terkait potensi Perang Dunia Ketiga, Teuku menyebut kekhawatiran publik sebagai hal yang wajar.
Ia menegaskan bahwa dampak perang global berikutnya akan jauh lebih menghancurkan dibandingkan perang dunia sebelumnya, mengingat banyaknya titik konflik aktif di berbagai kawasan seperti Asia Selatan, Laut Cina Selatan, Timur Tengah, Amerika Latin, hingga kawasan Arktik.
Namun demikian, ia menilai perang dunia masih dapat dicegah. Salah satunya melalui penguatan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan tekanan internasional terhadap Amerika Serikat agar mematuhi mekanisme hukum domestik dan internasional, termasuk persetujuan Kongres AS dalam setiap aksi militer.
Teuku juga menyoroti mulai terpecahnya NATO akibat kebijakan sepihak Amerika Serikat. Bahkan, negara-negara Eropa disebut kini lebih merasa terancam oleh AS dibandingkan Rusia.
Jika Amerika tetap memaksakan kehendaknya terhadap Greenland, konflik internal NATO dinilai dapat berkembang menjadi krisis besar yang melibatkan kekuatan militer global.
Bagi Indonesia, Teuku menekankan pentingnya menjaga posisi sebagai negara nonblok yang aktif. Indonesia dinilai harus memperkuat pertahanan nasional, meningkatkan kewaspadaan kawasan, serta mengoptimalkan peran diplomasi, khususnya di tingkat ASEAN. Kawasan Asia Tenggara, menurutnya, harus terus dijaga sebagai zona damai, bebas, dan netral.
“Diplomasi hanya akan kuat jika kondisi dalam negeri juga kokoh,” ujar Teuku. Ia berharap Indonesia dapat berperan sebagai bridge builder di tengah eskalasi konflik global, sekaligus menjaga stabilitas nasional dan regional dari dampak ketegangan antar kekuatan besar. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa