Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Microtoxic Parenting: Pola Asuh Kecil yang Berdampak Besar pada Kesehatan Mental Anak

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 22 Januari 2026 | 11:07 WIB
Microtoxic Parenting dan Beban Mental Ibu
Microtoxic Parenting dan Beban Mental Ibu

RADAR KUDUS - Pola asuh orang tua yang tampak wajar dalam keseharian ternyata dapat menyimpan kebiasaan mikro yang berdampak toksik bagi kesehatan mental anak.

Hal ini diungkapkan oleh dr. Elvin Gunawan, dokter spesialis kejiwaan, dalam perbincangan di "Bos Mama Podcast" yang membahas isu motherhood, kesehatan mental, dan relasi keluarga.

Dr. Elvin menjelaskan bahwa salah satu kesalahan yang kerap tidak disadari orang tua adalah pemberian pujian berlebihan.

Anak yang sejak kecil terus-menerus dipuji tanpa dasar perilaku yang jelas berisiko tumbuh dengan kebutuhan validasi tinggi.

Ketika memasuki dunia sosial yang tidak selalu memberikan apresiasi, anak dapat mengalami krisis kepercayaan diri dan terus mencari perhatian.

“Pujilah apa yang memang dia lakukan, bukan berlebihan atau dilebih-lebihkan,” tegas dr. Elvin.

Selain itu, ia menyoroti fenomena microtoxic habits dalam pengasuhan, seperti tuntutan kesempurnaan, guilt tripping, hingga membandingkan anak dengan saudara atau anak lain.

Pola-pola ini sering kali berakar dari luka emosional orang tua yang belum terselesaikan, lalu secara tidak sadar diwariskan kepada anak.

Kemudian terdapat beban mental tak kasat mata yang dialami ibu, dikenal sebagai invisible mental load of motherhood.

Beban ini mencakup tekanan untuk selalu kuat, menjadi “hero” dalam keluarga, sekaligus mengurus anak, pasangan, pekerjaan, dan relasi sosial.

Sayangnya, beban ini sering dinormalisasi dengan kalimat “harus bersyukur”, sehingga kelelahan mental ibu tidak dianggap sebagai masalah serius.

Dr. Elvin menekankan bahwa peran ayah sangat krusial dalam membangun rasa aman dan pola keterikatan (attachment) anak.

Ketidakhadiran emosional ayah, meskipun hadir secara fisik, dapat memicu gangguan kelekatan yang berdampak hingga dewasa, seperti kecemasan dan kesulitan membangun relasi sehat.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan anak sebagai tempat curhat atas masalah rumah tangga yang tidak dapat mereka selesaikan.

Anak sebaiknya hanya diberi informasi yang sesuai dengan kapasitasnya, terutama terkait masalah ekonomi, bukan konflik dewasa seperti perselingkuhan atau perceraian.

Dalam hal komunikasi, dr. Elvin menganjurkan penggunaan kalimat asertif dan spesifik, bukan menyalahkan atau memberi label negatif.

Menghindari kata-kata seperti “kamu selalu” atau “kamu tidak pernah” dinilai penting untuk menjaga kesehatan mental anak.

Dr. Elvin menyampaikan pesan bagi para ibu yang merasa lelah dan terbebani secara mental.

Menurutnya, mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan generasi berikutnya.

“Kalau tidak baik-baik saja, cari pertolongan. Itu bukti bahwa kita mencintai diri sendiri dan tidak ingin mewariskan luka ke anak,” ujarnya. (Ghina Nailal Husna)

 

Editor : Ali Mustofa
#parenting