RADAR KUDUS - Maudy Ayunda dikenal sebagai figur publik yang konsisten menyuarakan pentingnya pendidikan, pengembangan diri, dan kontribusi generasi muda.
Dalam sebuah podcast bernama "Kok Bisa?", Maudy berbagi kisah personal, pandangan hidup, hingga refleksi tentang pendidikan, karier, dan makna keberanian mengambil keputusan.
Percakapan itu dimulai dengan sisi personal Maudy yang jarang diketahui publik.
Ia mengungkapkan fakta unik bahwa saat lahir, dirinya merupakan bayi terbesar di ruang bersalin dengan berat 4,2 kilogram.
Dari cerita ringan, obrolan berlanjut pada perjalanan pendidikan Maudy sejak kecil.
Meski belum secara spesifik bercita-cita masuk universitas tertentu, ia sudah terpapar konsep pendidikan tinggi dunia seperti Oxford dan Ivy League sejak dini, baik dari lingkungan keluarga maupun cerita orang tuanya tentang rekan kerja lulusan universitas ternama.
Menariknya, jika melihat dirinya di masa kini, Maudy justru merasa versi kecil dirinya akan lebih terkejut pada transformasi kepribadiannya.
Ia mengaku dulunya sangat pemalu, tertutup, dan tidak percaya diri berbicara di depan umum.
Dunia hiburan menjadi titik balik yang memaksanya belajar public speaking.
Proses itu tidak instan, penuh rasa takut, dan memakan waktu lama, namun perlahan membentuk kepercayaan dirinya.
Dalam hal pengembangan diri, Maudy menekankan pentingnya kebiasaan kecil atau habit.
Meski kerap membagikan insight buku seperti Atomic Habits, ia menegaskan bahwa dirinya tidak mengklaim telah menerapkan semua teori secara sempurna.
Menurutnya, setiap orang memiliki jalur sukses yang berbeda dan teori pengembangan diri harus disesuaikan dengan konteks hidup, kepribadian, dan tanggung jawab masing-masing.
Soal kegagalan, Maudy memandangnya sebagai bagian dari proses belajar, bukan titik balik yang harus disakralkan.
Ia mencontohkan pengalaman tidak langsung kuliah ke luar negeri meski telah diterima di universitas ternama.
Keputusan jeda tersebut sempat terasa berat, namun justru menjadi ruang untuk membangun karier dan menemukan arah baru dalam hidup.
Kepada pelajar, Maudy membagikan tips belajar praktis yang ia terapkan sejak sekolah.
Salah satu kuncinya adalah benar-benar memperhatikan pelajaran di kelas dan membuat catatan.
Ia percaya bahwa kebiasaan ini mengurangi beban belajar menjelang ujian.
Selain itu, ia menggunakan metode self-diagnostic, yakni mengerjakan soal terlebih dahulu untuk mengetahui bagian mana yang belum dipahami, sehingga belajar menjadi lebih efektif dan terarah.
Menanggapi fenomena generasi muda yang memilih langsung bekerja tanpa kuliah, Maudy bersikap moderat.
Ia mengakui bahwa pada bidang tertentu, keterampilan teknis bisa diperoleh melalui jalur nonformal.
Namun, ia menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya soal ilmu, tetapi juga membangun jejaring, kredibilitas, dan kemampuan sosial yang penting dalam jangka panjang.
Dalam konteks global, Maudy juga berbagi pengalamannya sebagai perwakilan pemuda di forum G20.
Ia menjelaskan bahwa isu-isu yang dibahas, seperti transformasi digital dan krisis iklim, sangat relevan dengan generasi muda.
Menurutnya, keterlibatan bisa dimulai dari langkah kecil, seperti peduli, mengikuti isu, hingga terlibat dalam aksi nyata sesuai minat masing-masing.
Menutup perbincangan, Maudy menyampaikan pesan reflektif tentang kelelahan hidup dan krisis makna yang sering dialami banyak orang, termasuk dirinya.
Ia menekankan bahwa burnout dan krisis identitas adalah bagian dari perjalanan.
Maudy mengajak anak muda untuk lebih memaafkan diri sendiri, mengurangi ekspektasi berlebihan, dan percaya bahwa hidup bisa berubah hanya dengan satu keputusan.
“You are always one decision away from a completely different life”, ujarnya. Sebuah pengingat bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil dan keberanian untuk memilih. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa