Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengapa Bahasa Indonesia dipilih Menjadi Bahasa Pemersatu Bangsa? Begini Penjelasannya

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 15 Januari 2026 | 12:13 WIB
Sejarah Bahasa Indonesia: Dari Ragam Bahasa Daerah hingga Bahasa Persatuan
Sejarah Bahasa Indonesia: Dari Ragam Bahasa Daerah hingga Bahasa Persatuan

RADAR KUDUS - Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang relatif muda jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia.

Namun, perannya sangat krusial dalam membentuk identitas dan persatuan bangsa.

Untuk memahami asal-usul bahasa Indonesia, perlu ditelusuri terlebih dahulu kondisi kebahasaan masyarakat Nusantara sebelum lahirnya Indonesia sebagai sebuah negara.

 

Sebelum Indonesia berdiri, wilayah Nusantara terdiri atas berbagai kerajaan dan komunitas etnis dengan bahasa daerahnya masing-masing.

Hingga kini, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah bahasa daerah terbanyak di dunia.

Berdasarkan berbagai kajian linguistik, Indonesia menempati posisi kedua setelah Papua Nugini, dengan lebih dari 700 bahasa daerah yang masih digunakan sebagai bahasa ibu dan alat komunikasi sehari-hari.

Sebagian besar bahasa daerah di Indonesia berasal dari satu rumpun bahasa yang sama, yaitu rumpun bahasa Austronesia.

Menurut Encyclopaedia Britannica, rumpun bahasa Austronesia merupakan rumpun bahasa terbesar kedua di dunia, dengan sekitar 1.200 bahasa dan mencakup hampir seperlima dari seluruh bahasa di dunia.

Wilayah persebarannya sangat luas, mulai dari Madagaskar di Afrika, Asia Tenggara, Taiwan, hingga Selandia Baru dan Kepulauan Pasifik.

Meskipun jumlah bahasanya sangat banyak, tidak semua bahasa Austronesia memiliki jumlah penutur yang besar.

Beberapa di antaranya bahkan hanya dituturkan oleh ratusan orang dan masuk kategori bahasa terancam punah.

Para ahli bahasa mengelompokkan bahasa-bahasa ini dalam satu rumpun melalui kesamaan subsistem dasar, seperti kosakata angka, kata ganti, dan struktur kebahasaan.

Contohnya, penyebutan angka dalam bahasa Jawa, Melayu, Cebuano, Hawaii, hingga Malagasi menunjukkan kemiripan yang kuat.

Di Indonesia sendiri, terdapat sejumlah bahasa Austronesia dengan jumlah penutur lebih dari satu juta orang, seperti bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Minangkabau, Bugis, Batak, Aceh, dan Bali.

Bahasa Jawa menjadi bahasa dengan penutur terbanyak, bahkan mencapai sekitar seperempat dari total penutur rumpun Austronesia di dunia.

Menariknya, semakin ke wilayah timur Indonesia, jumlah variasi bahasa daerah semakin banyak, namun jumlah penuturnya semakin sedikit.

Sebaliknya, di wilayah barat, variasi bahasa lebih sedikit, tetapi jumlah penuturnya jauh lebih besar.

Di antara bahasa-bahasa tersebut, bahasa Melayu memiliki posisi yang sangat istimewa dalam sejarah Nusantara.

Meskipun bahasa Jawa memiliki jumlah penutur paling banyak, bahasa Melayu sejak masa lampau berperan sebagai lingua franca atau bahasa perantara antarwilayah, terutama dalam kegiatan perdagangan.

Letak geografis Selat Malaka yang strategis menjadikan bahasa Melayu digunakan secara luas oleh pedagang dari berbagai latar belakang etnis dan budaya.

Eksistensi bahasa Melayu dapat ditelusuri sejak abad ke-7 Masehi, sebagaimana dibuktikan oleh prasasti Kedukan Bukit pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Pada masa itu, bahasa Melayu Kuno ditulis menggunakan aksara Pallawa.

Seiring masuknya pengaruh Islam, bahasa Melayu berkembang dan mulai ditulis menggunakan aksara Arab atau aksara Jawi.

Pada masa kolonial, bahasa Melayu kembali beradaptasi dengan penggunaan alfabet Latin yang kemudian menjadi sistem penulisan yang digunakan hingga saat ini.

Pengaruh bahasa Melayu bahkan melampaui wilayah Nusantara. Bahasa Tagalog di Filipina dan bahasa Malagasi di Madagaskar diketahui menyerap kosakata dari bahasa Sanskerta, Arab, dan Persia melalui perantara bahasa Melayu dan Jawa.

Hal ini mengindikasikan adanya kontak budaya dan migrasi masyarakat Nusantara ke wilayah-wilayah tersebut pada masa lampau.

Peran bahasa Melayu semakin penting ketika muncul kesadaran nasional di kalangan pemuda Indonesia pada awal abad ke-20.

Dalam Kongres Pemuda I tahun 1926, Muhammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Namun, usulan ini sempat menuai perdebatan karena sebagian pihak menilai penamaannya perlu disesuaikan agar mencerminkan identitas bangsa yang baru.

Sebagai jalan tengah, istilah “bahasa Indonesia” kemudian dipilih. Bahasa Indonesia pada dasarnya merupakan bahasa Melayu yang dibakukan dan disesuaikan sebagai bahasa nasional, tanpa menghapus keberadaan bahasa daerah.

Keputusan bersejarah ini akhirnya ditegaskan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 melalui Sumpah Pemuda, yang menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Sejak saat itu, bahasa Indonesia menjadi simbol persatuan bangsa yang majemuk, sekaligus alat komunikasi nasional yang menjembatani perbedaan suku, budaya, dan bahasa daerah di seluruh Nusantara. (Ghina Nailal Husna)

 

Editor : Ali Mustofa
#sejarah #Bahasa Indonesa